Mereka Sudah Meminta Maaf, Apa Kamu Benar-Benar Memaafkannya?

0
SHARE
maaf, memaafkan, memaafkan orang lain, memaafkan orang yang menyakiti, memaafkan masa lalu, memaafkan bukan berarti melupakan
image via: blog.mindvalley.com

Mohon maaf lahir dan batin.”

Kalimat ini begitu ngehits di awal dan akhir Ramadan, tepatnya pada momen lebaran. Kamu pun menulis kalimat yang sama pada orang-orang. Tapi soal mereka memaafkanmu atau tidak, itu sudah di luar urusan dan kendalimu.

Semoga saja iya.

Kalau kamu sendiri, bagaimana?

Apakah kamu benar-benar memaafkan orang-orang yang sudah meminta maaf padamu? Atau, apakah kamu sudah memaafkan mereka yang bahkan tidak merasa bersalah padamu dan tidak memohon maaf padamu?

Manusiawi, sih, kalau kamu tidak mudah memaafkan orang-orang tertentu dengan kesalahan tertentu juga. Meski kejadiannya sudah lama, namun memorimu masih menyimpannya. Rasa itu masih ada. Sehingga memberikan maaf pada kasus tertentu memang tidak mudah.

Orang bilang, ‘memaafkan, tapi tidak melupakan’.

Apa itu “maaf”?

Ngomong-ngomong, maaf itu seperti apa sih? Apakah kamu sudah disebut memaafkan seseorang kalau sudah melupakan kekhilafannya? Apakah maaf itu berarti memberi ruang pada seseorang untuk melakukan kesalahan yang sama?

Kalau menurut Pak dr. Jiemi Ardian, memaafkan adalah sebuah tindakan yang secara sadar kita putuskan untuk dilakukan.

Tujuannya agar lepas dari rasa sakit karena amarah dan pembalasan dendam kepada dia yang menyakitimu, terlepas apakah perbuatan itu layak dimaafkan atau tidak. Kamu hanya ingin lepas dari beban.

Ciri utama kalau kamu sudah memaafkan seseorang

Masih menurut sang Psychiatrist, kamu sudah memaafkan seseorang kalau keinginanmu untuk menghindarinya sudah berkurang.

Kamu juga tidak lagi ingin balas dendam atau mengharapkan yang buruk-buruk padanya. Malah rasa welas asih kamu meningkat. Kamu juga seperti berinisiatif untuk melakukan hal-hal positif.

Apakah memaafkan seseorang itu sangat mudah dan cepat?

Untuk beberapa kasus, pemaafan tentu tidak terjadi secara instan. Perlu kesadaran dan usaha terus-menerus agar apa yang sudah terjadi di masa lalu tidak lagi menyakiti diri di masa kini.

Baca Juga :  11 Hal yang Bisa Kamu Lakukan untuk Mengubah Dunia Menjadi Lebih Baik

Kalau proses yang panjang ini berhasil, efeknya bisa berupa pengurangan rasa benci. Ada pun prosesnya tidak perlu terburu-buru. Biarkan mengalir saja.

Selain itu, masih menurut dr. Jiemi, ada kesadaran dalam diri bahwa orang yang menyakiti kita bisa jadi merupakan korban yang pernah disakiti orang lain juga.

Sebaliknya, kita pun bisa menjadi pelaku yang menjejakkan luka-luka batin bagi orang lain. Rantai rasa sakit itu semakin memanjang dan hanya bisa putus oleh pemaafan yang tulus.

Menolak Disakiti Lagi

Akan tetapi, mesti dicamkan baik-baik. Kalau memaafkan bukan berarti membiarkan diri kamu kembali disakiti, dikecewakan, atau dihancurkan. Sehingga kadangkala kamu memaafkan, namun menjaga jarak. Antara tegas dan bijak. Mereka Sudah Meminta Maaf, Apa Kamu Benar-Benar Memaafkannya? #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 + thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.