Mewaspadai Kemungkinan Terburuk sambil Berharap yang Terbaik

0
SHARE
Mewaspadai Kemungkinan Terburuk sambil Berharap yang Terbaik,
Image via: theconversation.com

Pernah enggak sih, kamu merasa was-was karena terlalu bahagia? Soalnya takut tiba-tiba ada kesialan dari arah tak terduga? Sehingga terbahak-bahak kamu berubah jadi terisak-isak?

 

Pernah enggak sih, kamu merasa bersalah karena terus-terusan galau dan sedih? Soalnya takut Tuhan merasa “tidak disyukuri” atau “tidak diapresiasi”, sehingga nikmat dari-Nya terus dikurangi? Terus air mata kamu malah jadi benar-benar abadi?

Kalau dipikir-pikir, kusut juga, ya?

Tapi entah kenapa, saya berpikir kalau hidup ini memerlukan ‘seni’ untuk menyeimbangkan prasangka yang baik dan kemungkinan yang buruk. Jadi jangan sampai kita berat sebelah. entah terlalu optimis, atau pun terlalu pesimis. Kalau bisa, sih, seimbang saja terus.

Kalau selalu berpikiran buruk, yang ada kita jadi stres dan diganggu kecemasan. Rasanya sulit berdamai, padahal keadaan di detik ini dan di sini sedang baik-baik saja. Tidak ada apa-apa. Tapi pikiran malah meramalkan yang tidak-tidak. Sehingga timbul rasa panik secara tiba-tiba.

Tapi kalau terlalu optimis semua akan baik-baik saja, kemungkinan kita tidak akan siap ketika terjadi kemalangan yang tidak pernah disangka. Contohnya yang sekarang sedang jadi buah berita; siapa yang menyangka akan kedatangan virus corona. Rasanya kebanyakan berita memberikan aura mengerikan seputar virus tersebut.

Belum lagi dengan kabar tentang kematian seseorang secara mendadak, musibah di suatu tempat yang tidak diduga, kebangkrutan seorang kawan yang tidak disangka-sangka, putusnya pasangan mesra yang tidak pernah didera skandal sebelumnya, dll.

Tidak heran kalau prinsip, ‘bersiap atau mewaspadai kemungkinan terburuk sambil berharap yang terbaik’, patut kita pertimbangkan.

Tidak ada salahnya untuk memiliki persiapan, pencegahan, dan perencanaan. Jika takut virus corona, pastikan kita mematuhi himbauan pihak kesehatan dan tidak dulu mengunjungi negara-negara yang sedang rawan virus tersebut.

Baca Juga :  8 Cara Supaya Kita Tidak Kepo atau Tergoda untuk Stalking Orang Lain

Jika takut sakit, pastikan kita menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.

Jika takut berpisah tanpa pamitan, pastikan untuk selalu menjaga dan merawat hubungan baik dengan pasangan/keluarga/tetangga/teman.

Sebisa mungkin, jangan sampai terlalu berpikir negatif juga. Sebab, takut pada sesuatu yang belum/tidak terjadi justru menimbulkan kegelisahan yang menyiksa. Parno, jadinya.

Sesuatu yang bisa kita lakukan hanyalah menyadari kalau kita sedang ada di sini dan menjalani hari ini. Kita sedang berikhtiar yang terbaik. Tapi memang, kita hanya hamba Tuhan, yang tidak berdaya. Perlu bantuan doa juga.

Kita bahkan tidak bisa mengendalikan semuanya. Seringkali cuma bisa pasrah saja pada apa pun ketetapan-Nya. Lagi-lagi, hanya mampu sekadar bersiap dan berharap. Mewaspadai Kemungkinan Terburuk sambil Berharap yang Terbaik. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 + 19 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.