Naskah Drama Bahasa Indonesia Berjudul “BASECAMP”

7
SHARE

ADEGAN I

Hari sudah petang. Melvi pulang dengan lunglai. Tetapi seperti biasanya, ia tak buru-buru merapikan diri. Tas yang sedang digendong pun terlempar dari pintu kamar, dan mendarat keras di atas kasur.

Melvi  : (terlentang di atas kasur) “Fiyuh…

Umi    : “Darimana saja kamu, Melvi, jam segini baru pulang?”

Melvi  : “(main ponsel) Aku habis main umi, emangnya kenapa?”

Umi    : “(menggertak) Jawab dengan sopan!”

 Melvi :”Ya maaf, Umi, aku ‘kan baru datang terus capek.”

Umi    : “Masalah apalagi yang kamu buat di sekolah, huh?”

Melvi  : “(berlagak polos) Ng… masalah apa ya, Umi? Ngapain juga aku bikin masalah? Nanti dimarahin sama kepsek.”

Umi    : “(frustasi) Enggak usah bohong! Memangnya Umi tidak tahu apa yang kamu lakukan tadi di sekolah? Kenapa sih kamu selalu bikin masalah? Selalu membuat Umi bingung dengan segala tingkah kamu. Coba kamu sekali saja tidak membuat masalah! Tidak membuat umi malu! (berbicara dengan nada tinggi)

Melvi  : “Umi tau dari mana? Umi ‘kan gak ikut aku sekolah?”

Umi    : “Tadi wali kelas kamu datang ke sini. Nah, kamu tidak bisa mengelak lagi.”

Melvi  : “(menunduk) Iya Umi, maaf aku memang bohong sama umi. Aku ribut lagi sama temen. Lagian aku hanya melakukan pembelaan kok, Umi! Dia ngata-ngatain aku pendek. Umi tahu sendiri betapa kata kata itu itu sensitif banget buat seorang atlit basket. Aku ‘kan gak terima, Umi!”

Umi    : “Cukup! Mulai keluar deh cerewetnya kamu! Maunya apa sih? Kamu itu sudah SMA! seharusnya kamu itu belajar bersikap dewasa jangan terus bersikap kekanak-kanakan! Umi enggak tau harus nasehatin kamu kayak gimana lagi?! Kamu selalu bertingkah seenak jidat. Enggak mau dengerin umi. Apa harus umi anterin kamu ke pesantren lagi supaya kamu sadar?”

Melvi  :”Jangan, Umi! Jangan bawa aku ke sana. Aku gak bakal betah. Memang aku salah gak nurut nasehat umi, selalu bikin marah umi, selalu bertingkah nakal. Aku minta maaf, Umi, tapi aku enggak mau ke pesantren lagi.”

Umi    : “Kalau enggak mau dibawa ke pesantren, kamu harus mau berubah. Jangan bertingkah seperti anak-anak terus! Sekarang umi tanya sama kamu, kamu mau umi ngapain supaya kamu berubah?”

Melvi            : (terdiam tanpa kata merenungkan kesalahannya)

Umi    : “Kenapa kamu diam? Baik kalo kamu gak mau berubah, Umi akan bawa kamu ke Basecamp saja. Renungkan kesalahan kamu disana! Sekarang cepat kemasi barang-barang kamu!”

Melvi  : “(menatap bingung) Basecamp? Basecamp mana? Kenapa umi bawa aku ke basecamp? Basecamp itu bukannya tempat nongkrong? Terus kenapa bawa baju sekolah dan baju yang lainnya juga? Palingan cuma sejam ‘kan disananya? (tertawa) Umi ini kayak mau tinggal disana aja.”

Umi    : “Iya, basecamp itu tempat nongkrong yang cocok buat kamu,. Sekarang jangan banyak tanya. Kamu kemasi saja barang-barangnya. Cepetan! umi tunggu kamu di luar!”

Melvi  : “(masih bingung) Iya, iya.”

Sekitar 10 menit kemudian Melvi selesai berkemas.

Umi    : “Sudah? Ayo sekarang kita berangkat?”

Melvi  : “Tunggu! Sebenarnya umi mau bawa aku kemana? Umi gak akan bawa aku ke pesantren kan?”

Umi    : “Umi ‘kan sudah bilang umi mau bawa kamu ke Basecamp, umi yakin kamu akan betah disana umi gak bohongin kamu tenang saja.”

Baca Juga :  Satu Cinta Sejati

Dengan masih kebingungan Melvi menuruti apa kata uminya. Melvi dan Uminya pun berangkat.

 

ADEGAN 2

Dengan penuh keheranan akhirnya Melvi dan uminya tiba di suatu tempat yang luas, hanya beberapa bangunan saja yang berdiri.

Melvi  : “Umi ini basecamp apa? Kok kayak gini sih? Udah gitu sepi lagi?

Umi    : “(menarik tangan Melvi) Iya ini basecampnya, udah ayo ikut umi!”

Melvi  : “Aku berhak tahu, Mi, Basecamp itu apa maksudnya?”

Umi    : “(berpikir sejenak) Semacam sekolah kepribadian informal, Melvi. Udah pokoknya ikut aja.”

Melvi  : “Oh semacem John Robert Powers itu, Mi? Wah…”

Umi    : “Bukan… udah deh.”

Melvi dan uminya mendatangi sebuah ruangan. Kedatangan mereka disambut oleh seorang wanita bernama Aryanti.

Bu Aryanti    : “Selamat datang, Bu. Perkenalkan nama saya Aryanti. Ada yang bisa saya bantu?”

Umi             : “Saya mau mendaftarkan anak say, Melvi. Katanya periode baru sudah dibuka, ya?”

Melvi            : “(Berbisik pada uminya) Umi, mau nongkrong aja kok pake daftar segala sih?”

Umi hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan Melvi.

Bu Aryanti    : “Iya, Bu. Mari ikut saya!”

Umi              : “Baik, Mba. Kamu tunggu ya, Melvi.”

Melvi hanya mengangguk dan memainkan ponsel. Beberapa menit kemudian,

Umi    : “Ayo Melvi ki-..”

Melvi : “(memotong pembicaraan) Kita pulang, Umi? Asyik!”

Umi    : “Bukan, Sayang. Umi mau antar kamu ke kamar kamu. Kamu ‘kan nginep disini?!”

Melvi  : “Maksud umi? Enggak mau ah, Umi!”

Umi hanya tersenyum mendengar gerutuan Melvi.

Bu Aryanti    : “Mari, Bu. Saya antar.”

Umi              : “Oh iya, Mba. (menarik tangan Melvi) Ayo, Sayang.”

Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya Umi dan Melvi sampai di sebuah kamar yang lumayan luas yang ditunjukan Aryanti.

Bu Aryanti    : “Ibu dan Dik Melvi silakan masuk. Saya tinggal dulu.”

Melvi            : “Umi ini maksudnya apa sih? (nada bicara meninggi) Aku masih belum ngerti. Umi bawa aku ke sini terus daftarin aku buat nginep?”

Umi             : “Kali ini aja ya, Melvi. Dengerin Umi… (terdiam dulu, melihat reaksi Melvi) Iya, umi daftarin kamu di Basecamp ini. Kamu akan tinggal di sini selama satu semester. Pulang dan pergi ke sekolah juga dari sini. Bukan ke rumah…”

Melvi            : “Tap-…”

Umi             : “(menyela omongan Melvi) Nanti mereka akan menyediakan transportasinya. Disini kamu akan belajar, bermain, dan banyak lagi. Umi harap kamu merenungkan segala kesalahan kamu… Ya sudah kamu betah yah di sini. Umi harus pulang dulu. Dan tenang saja. Nanti juga banyak temen, kok.”

Melvi            : “(merengek) aku gak bakalan betah di sini, Umi.”

Umi             : “Belum juga tinggal, sudah bikin kesimpulan? Siapa tahu kamu malah lebih betah di sini ketimbang di rumah sendiri? (tersenyum berat). Ya sudah, jaga diri baik-baik. Umi pamit, ya. Assalamualaikum.”

Melvi            : “Tap… Umi… ugh! Waalaikumsallam.”

Umi hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Melvi sendiri masih bingung dengan semuanya. Setelah uminya pulang, ia hanya duduk termenung sendiri di sebuah ruangan yang ada di depan kamarnya. Beberapa menit kemudian datanglah seorang remaja seumurannya. Ia datang bersama wanita paruh baya, yang tampaknya memang ibunya sendiri.

Bu sandra     : “Ok Baron sekarang kamu tinggal di sini. Awas kalo sampe enggak makan seharian karena kenyang sama games lagi. Mama gak segan-segan kirim kamu keluar negeri. Mama gak mau tau.”

Baca Juga :  Puisi; Aku Malu

Baron           : “Iya, Mah, iya. Tapi mama jemput Baron secepatnya, ya? Baron gak mau lama-lama disini.”

Bu Sandra     : “Tergantung! Kalau kamu bisa mengubah sikap dengan cepat, mama akan jemput kamu secepatnya juga.”

Baron           : “Lah kok mama gitu sih? Mama gak sayang lagi sama Baron?”

Bu Sandra     : “Justru mama kirim kamu ke sini karena mama sayang sama kamu, Baron. Mama mau kamu berubah… Ya udah mama tinggal dulu, ingat jangan coba-coba bikin onar disini.”

Baron           : “Tapi ma, nanti makan aku gimana disini, terus di sini pasti dingin gak ada selimut.”

Bu Sandra     : “Baron, kamu jangan manja dong, walaupun kamu nangis sejadi-jadinya mama gak akan mengubah keputusan mama. Udah, mama harus pulang. Ng… di sini kamu harus belajar mandiri. Mama gak bisa jenguk kamu.”

Baron           : “Mah please dong, mama ‘kan tau seminggu lagi Baron ada proyek game tester. Baron harus ikut, Ma. Baron yakin Mama masih sayang dan enggak tega melihat Baron menderita.”

Bu Sandra     : “(menatap kasihan) Udah ah, mama pulang dulu (melangkah berat).”

Baron           : “Tapi mah, mamah… mamah…mamah…. aahh!”

Meskipun Baron memanggil-manggil, namun mamahnya sudah mantap tidak menengok lagi. Perempuan itu sudah menangis karena tak terbiasa terpisah lama dengan putera bungsunya. Tetapi ia harus kuat demi perubahan sikap anaknya sendiri. Melihat keadaan itu, Melvi yang sedari tadi melongo pun menghampiri.

Melvi            : “Itu nyokap lo?”

Baron           : “Iya.”

Melvi            :”Gue Melvi. Elo Baron ‘kan?”

Baron           : “Iya.”

Melvi            : “By the way, kenapa elo bisa di kirim kesini sama nyokap lo?”

Baron           : “Gue ini gamer garis keras. Kalo udah main, suka lupa waktu. Terkadang pas pelajaran di kelas pun gue gak berhenti main game. Jangankan pelajaran, makan dan mandi aja bisa gue lupain… Nyokap gue mungkin udah terlalu kesel. Puncaknya sih kemarin, pas nyokap dipanggil ke sekolah gara-gara nilai gue anjlok, dan sering ketauan main game sama wali kelas.”

Melvi            : “Oh gitu, kalo gue sih cuma kenakalan biasa. Palingan ribut di sekolah, malakin junior, atau sering jadi korlap buat aksi mogok belajar kalau gurunya enggak asyik. Kadang kalau lagi kelebihan energi, gue pecahin pot-pot kelas junior juga sebagai bentuk protes karena mereka itu pada cepu.

Baron           : “Elo ngebully? Etdah! Anak berhijab kok tengil sih?”

Melvi            : “(ngangkat bahu) Ya inilah gue. Santai, enggak dengerin apa kata orang. Ng… elo sekolah dimana?”

Baron           : “Di kelas X SMA Pelita Bangsa. Elo?”

Melvi            : “Seangkatan, dong! Gue sih di SMA Fajar Harapan.”

Ketika mereka mulai asyik mengobrol, datang 4 orang remaja seumuran lainnya. Mereka adalah Munief, Arsyad, Narizza dan Faizah. Keempatnya datang dengan seorang lelaki berpakaian seperti anggota TNI. Belakangan diketahui kalau namanya itu Jendral Basuki.

Jend. Basuki : “Baik anak-anak, sekarang berbaris yang rapi!”

(anak-anak pun berbaris)

Jend. Basuki : “Perkenalkan. Saya Jenderal Basuki. Saya komandan di basecamp ini. Dan memperkenalkan para pembina di Basecamp ini. Ada Ibu Melisa, Arsi, Ningtyas, Aryanti dan Devina. Di sini kalian akan dilatih kedisiplinan. Kalian tidak bisa semena-mena. Harus menuruti tata tertib. Kalau ada yang melanggar aturan, kalian akan mendapat konsekuensinya… Sekarang silakan kalian santai dulu. Rapikan kamar masing-masing dan berkenalan dengan rekan kalian. Ingat! jangan coba-coba kabur. Dan… tepat pukul 19.30, kalian harus segera berkumpul di lapangan. Jangan sampai telat. Mengerti?”

Baca Juga :  Cerita Orang Tua

Anak-anak    : “(menjawab serentak) Mengerti, Jenderal!”

Jend. Basuki : “Bagus! Kalau begitu saya tinggal dulu.”

Jenderal Basuki pun meninggalkan ruangan.

 

Munief         : “Ini kita cuma enam orang? Yang bener bae?”

Arsyad         : “Ternyata nyokap gue gak bohong, ini basecamp emang bakal asyik dalam tanda kutip (sarkastik).”

Baron           : “Hey, kalian satu sekolah?”

Munief, Narizza, Faizah, Arsyad : “(kompak) Iya.”

Baron           : “oh, pantesan. Kenalin gue Baron.”

Melvi            : “Gue Melvi.”

Mereka pun saling berkenalan satu sama lain

Melvi            : “Kalian senakal apa sampai dikirim ke sini?”

Faizah          : “Kita ini sebenernya bagian dari geng motor. Kita sering konvoi dan bolos sekolah. Makanya orang tua kita gedeg. Kalian sendiri kenapa?” (bertanya kepada Baron dan Melvi)

Melvi            : “Hhh… ceritanya panjang. Intinya gue juga sering bolos dan bikin geleng-geleng satu sekolah.”

(Mereka tertawa)

Baron           : “Kalo gue gara-gara main game sampai lupa waktu..”

Arsyad                   : “Oh jadi elo hobi maen game? Ceilah… mantap!”

Nariiza         : “Halah, main game apa asyiknya sih? Gue kasih tau ya main game bisa nyuci otak tauuu…” (sambil menjulurkan lidah)

Munief         : “Iya bener tu za, mending kita berlatih bela diri lebih seru tau.”

Faizah          : “Payah hobby lu pada. Nih ya hobi yang paling keren itu main skateboard sambil dengerin lagu-lagu Kakek Bob Marley.”

Melvi            : “Meski enggak ada yang nanya, tapi gue bakal umumin kalau hobi gue itu maen basket.”

Baron           : “Yah… ngegame itu mempertajam konsentrasi dan melatih kecerdasan buat nyiapin strategi. Makanya gak jarang banyak anak gamers banyak yang cerdas otaknya. Bener gak? bener gak? Bener dong, iya gak? iya gak? Iya dong haha… (tertawa puas).

Anak-anak hanya tertawa mendengar ucapan Baron

Melvi            : “Eh udah hampir pukul 19.30 nih, kita sholat dulu, yuk, nanti ‘kan harus kumpul lagi?”

Faizah                    : “Bener tuh kata Melvi udah yuk buruan.”

Munief         : “Yaudah kita kemon ambil air wudhu.”

Arsyad                   : “Yaelah, santai ajalah.”

Faizah          : “Eh, Arsyad tapi tadi jenderal bilang kita gak boleh telat, terus kita harus ikutin tata tertib disini kalo kita semua bakal kena konsekuensinya.”

Arsyad                   : “Iya juga sih, yaudah kita wudhu!”

Munief         : “Baron?”

Baron           : “hehmm” (jawab Baron singkat)

Munief         : “elo kagak ikut shalat?”

Baron           : “Duh, baru aja gue mau nawarin maen League of Angels II.”

Munief         : “Entar elu telat, Ron”

Baron           : “Kagak… udah elu duluan aja entar gue nyusul”

Munief         : “Yaudah terserah elu dah!”

Munief pun menyusul rekannya yang sudah lebih dulu ke mushola.

Faizah                    : “Lama banget si lu ngapain dulu si?”

Munief         : “Gue abis ngajakin si Baron tapi dia kagak mau.”

ADEGAN 3

Ketika mereka sedang membereskan mukena mereka bertemu dengan Pembina sekaligus assistent Jenderal Basuki.

 

Bu Melisa     : “Kalian masih disini, ayo cepat bergegas sekarang sudah hampir pukul 19.30”

Bu Arsi         : “Kalian jangan sampai terlambat! Kalau terlambat kalian akan tau akibatnya.”

Kemudian para pembina pun melanjutkan tugasnya. Mereka pun shalat berjamaah di mushola dan menghiraukan waktu.

next-page-rd-300x100-1

1
2
3
4
5
6
SHARE

7 COMMENTS

  1. […] Naskah Drama Bahasa Indonesia Berjudul “BASECAMP” Sebelumnya daku sudah sharing naskah drama Bahasa Indonesia “Pewaris Tahta”. Kali ini daku kembali dengan naskah drama yang agak berbeda. Yang satu ini masih karya asli dari anak SMA Negeri Darma. Namanya adalah Ayu Musniyati, yang sekaligus menjadi penanggung-jawab drama ini. Kebetulan Ayu Cs juga berkewajiban menampilkannya dalam Mata […]Continue Reading […]

  2. maaf mbak saya mau minta izin makai naskah ini untuk pentas saya disekolah saya dan saya juga minta izin untuk merombak sedikit naskah ini tapi saya tidak akan menghilangkan maksud dan pesan yang ada di dalam naskah ini
    terima kasih

    • maaf mbak saya mau minta izin mau pakai naskah ini buat projek film disekolah saya tapi saya juga minta izin untuk merombak sedikit naskah ini tapi saya tidak akan menghilangkan maksud dan pesan yang ada di dalam naskah ini
      ini alamat email saya kalau memang mengizinkan
      gita.dwy587@gmail.com

Comments are closed.