Naskah Drama Bahasa Indonesia Berjudul “BASECAMP”

7
SHARE

ADEGAN 4

Tiba-tiba terdengar suara sirine dari tengah lapang.

 

Munief         : “apa maksudnya nih kok ada bunyi sirine?” (Munief sangat terkejut dengan suara sirine tersebut)

Narizza        : “iya nih apa maksudnya kita kan lagi shalat…”

Faizah          : “Guys lu semua liat jam deh ini tuh udah pukul 13.00, kita kan tadi disuruh kumpul sama jenderal Basuki di lapangan tapi kita masih disini ajah.”

Mereka baru menyadarinya mereka pun bergegas ke lapangan dan mengiraukan mukenah tanpa dirapihkan. Terdengar suara hitungan Jenderal Basuki yang sangat keras menunjukan hitungan baru sampai lima.

Jend. Basuki : “5…6…7…8…9…10, dasar lambat kalian! Darimana saja kalian tadi saya sudah mengintruksikan bahwa tepat pukul 19.30 kalian sudah harus baris di lapangan!

Faizah          : “ Ya… sorry keles jenderal kita kan abis shalat gak usah gitu-gitu amat serem tau liatnya.”

Bu Melisa     : “(membentak) Kamu ini kalau bicara dengan jenderal harus sopan jangan seenaknya, jangan samakan jenderal dengan teman kamu!”

Arsyad         : “Yaelah Bu, lagian salah jenderal sendiri siapa suruh nyalain sirine kita kan jadi kaget. Lagian apa maksudnya coba nyalain sirine? Emang kita udah niat kok mau kumpul di lapangan setelah shalat.”

Jend. Basuki : “Sungguh tidak sopan! Pantas saja orangtua kalian mengirim kalian kesini. Saya benar-benar tidak menyangka remaja yang tampak sangat baik seperti kalian ini memiliki sifat yang membuat orang lain kesal.”

Baron           : “ya lagian Jenderal ngagetin orang lagi ibadah aja.”

Bu Devina     : “Kaliannya sendiri yang terlambat, tak langsung sholat begitu adzan berkumandang. Seharusnya kalian sudah paham dengan peraturan di Basecamp. Di sini tidak ada kata terlambat! Apalagi harus membuat jenderal menunggu.”

Melvi            : “Aduh… please yah kalo Jenderal dan ibu-ibu semua ini cuma mau marahin kita cuma gara-gara kita datang terlambat ke lapangan, mending tadi kita gak usah dateng aja kali ke lapangan mending kita bobo cakep ajah gak penting banget dih…”

Bu Arsi         : “Lebih baik kaian jangan banyak bicara! Apalagi berbicara dengan nada tidak sopan seperti itu kepada orang yang lebih tua dari kalian.”

Bu Ningtyas  : “Benar apa yang Bu Arsi katakan kalian harus menjaga sopan santun disini, kalian sudah jadi tanggung jawab kami selama disini jadi jangan buat kami pusing dengan menghadapi sikap kalian yang tengil ini.”

Narizza        : “Ya kalo Ibu-ibu semua dan jenderal males ngurusin kita, ngapain kalian semua capek-capek buka Basecamp ini?”

Bu Ningtyas  : “Sekalipun kalian nakal, setidaknya kalian tidak banyak bicara dan cukup menuruti peraturan disini.”

Bu Arsi         : “Benar sekali bu Ningtyas, tapi sungguh ironis(geleng-geleng kepala)  kalian sudah dewasa namun masih kekanak-kanakkan.”

Baca Juga :  Puisi; Memori

Jend. Basuki : “Sudah-sudah, sebagai hukumannya silahkan kalian turun!” (menunjuk ke arah bawah)

Faizah          : “Turun kemana jenderal? Ya kali kita lagi di atas bukit?” (sedikit meledek dengan senyum jahat)

Arsyad         : “Haha… bener banget tuh zah geli gue jadinya” (sambung Arsyad sembari tertawa”

Munief         : “Gak sekalian aja kita terbang jenderal? Hahaha…” (Munief nyambung sembari tertawa)

Mendengar jawaban rekan-rekannya Baron, Narizza dan Melvi malah ikutan tertawa terbahak-bahak.

Bu Ningtyas            : “Sudah cukup! Kenapa kalian malah tertawa bukannya berpikir!”

Bu Arsi                   : “Benar, kalian ini benar-benar seperti anak kecil tidak tau etika dan sikap menghadapi orang dewasa”

Melvi                     : “Ya lagian Jenderal sendiri ngelucu ajah, tiba-tiba kita disuruh turun. Ya kita bingung lah mau turun kemana ini kan bukan bukit, Bu. Haha…” (ungkap Melvi yang masih belum bisa menahan tawanya)

Bu Melisa               : “Sudah cukup, lebih baik kalian dengarkan intruksi Jenderal! Masa kalian tidak mengerti?”

Narizza                  : “emang kagak ngerti keles”

Bu Devina               : “Maksud turun itu kalian ambil posisi push up!”

Jenderal Basuki      : “Ayo silahkan sebelum saya berubah fikiran meyuruh kalian naik bukit beneran.”

Anak-anak              : “Siap jenderal” (sahut mereka dengan keras dan kompak)

Jenderal basuki      : “1….

Anak-anak              : “1…” (kompak)

Jenderal Basuki      : “1…”

Anak-anak              : “1…”

Narizza                  : “Kok daritadi 1 mulu sih?” (bisik Narizza kepada faizah yang ada di sampingnya)

Jenderal Basuki      : “Ehhh itu kalian jangan mengobrol! Ayo sekarang teruskan push up-nya!”

Bu Devina              : “Ayo cepat push up yang semangat teruskan hitungannya dengan keras!!!”

Jend. Basuki           : “2…”

Anak-anak              : “2 (Kompak)

Begitu seterusnya anak-anak push up sampai beberapa hitungan yang dikomando oleh Jenderal Basuki.

 

Jenderal Basuki      : “Segera berdiri dan lakukan Skot jump ayo cepat!!!” (teriak jenderal Basuki) 1…2…3….4….5”

Anak-anak              : “1….2…3…4…5”

Setelah anak-anak disuruh push up oleh jenderal Basuki, mereka dipersilakan istirahat. Namun posisinya masih di lapangan. Ada yang selonjoran, ada juga yang terlentang.

Jend. Basuki           : “Sekarang… (terdiam sejenak), eh bukannya kalian itu berenam? Yang satunya mana?”

Semua saling lirik, dan kemudian menyadari kalau Baron tertinggal. Semuanya harap-harap cemas, mengkhawatirkan apa yang akan terjadi pada sang gamer itu ketika jendral tahu. Apalagi setelah salah-satu pembina berbisik ke telinga jendral, dan wajah lelaki itu tampak memerah karena emosi. Terakhir Munief mengecek, Baron sedang asyik menyusun strategi agar bisa menaklukan Anno 2205.

Jend. Basuki          : “Ya sudah, biarkan dia bersenang-senang dulu. Saya akan membuatnya menderita kemudian (melenggang meninggalkan lapangan).”

Anak-anak menelan ludah.

 

Sebelum mereka menyaksikan ke arah mana sang jenderal pergi, para pembina perempuan sudah mengalihkan perhatian. Malam itu mereka belajar tentang sesuatu yang mereka anggap aneh, yakni tentang cara belajar. Namun yang lebih aneh, cara berjalan mereka selama ini ternyata mendapat koreksi.

Baca Juga :  Halo Milenial, Sudahkah Kamu Memiliki Proteksi?

 

Mereka harus mengangkat dagu, mata menatap lurus ke depan, bahunya tegak, dan kaki pun berjalan dengan lurus. Satu per satu mencoba mempraktikannya. Malah ada yang sampai berulang-ulang. Melvi dianggap berjalan terlalu cepat, Arsyad malah terkesan seperti robot kaku, sementara Munief dinilai terlalu bungkuk.

ADEGAN 5

Keesokan harinya, mereka dibangunkan sebelum subuh. Namun para pembina masih mentoleransi sebagian, khususnya Melvi dan Baron, yang bangun terlambat. Kini ketika jam menuding angka setengah 7, mereka sudah berkumpul di lapangan dan melakukan squat jump.

Jend. Basuki : “Ayo yang semangat jangan leha-leha kalian cepat-cepat!!!” (teriak jenderal Basuki)

Bu Ningtyas  : “Hey jangan saling dorong begitu takut ada yang celaka!!!” (teriak Bu Ningtyas)

Bu Arsi         : “Ayo cepat jangan main-main kalian!!!!”

Bu Devina     : “Baron! Lakukan dengan serius jangan main-main kamu!!” (teriak Bu Devina kepada Baron)

Bu Aryanti    : “Ayo sekarang kalian merayap dari ujung lapang sini sampai ujung lapang sana, kemudian kalian kembali lagi kesini dengan merayap lagi cepat!!!!!”

Jend. Basuki : “jangan lelet kalian dan jangan ada yang merangkak semuanya merayap ayo cepat cepat!!! (Jenderal basuki berteriak) Cukup! Sekarang kalian harus menghormat bendera sana cepat jangan sekali-kali menurunkan tangan selagi tidak ada intruksi dari saya!”

Setelah “sambutan pagi” yang mengundang keringat itu, mereka pun pergi mandi dan sarapan. Mereka juga diantar ke sekolah masing-masing menggunakan bus Basecamp…

Jend. Basuki : “Semua pembina harap kumpul (ucap Jenderal Basuki tidak terlalu keras kepada para pembina Basecamp yang kelimanya adalah wanita), bagaimana menurut pendapat kalian tentang anak-anak tersebut?”

Bu Arsi         : “Maaf Jenderal, mereka sangatlah keras kepala dan egois. Mereka belum dewasa padahal rata-rata dari mereka sudah menginjak bangku SMA”

Bu Ningtyas  : “Benar Jenderal, rasanya kami akan kewalahan mengurus mereka. Karena bukan hanya kepada kami. Kepada Jenderalpun mereka tidak bisa menjaga sopan-santun.”

Bu Aryanti    : “Saya setuju dengan Bu Arsi dan Bu Ningtyas, ini belum seberapa Jenderal dan mereka sudah berani membangkang terhadap peraturan disini bagaimana kalau nanti Jenderal?”

Bu Melisa     : “Akan tetapi kita juga tidak mungkin melepas tanggung jawab kita terhadap mereka, orangtua mereka sudah menitipkan mereka kepada kita dan mempercayakannya bahwa kita sanggup merubah sikap mereka Jenderal”

Bu Devina     : “Tapi bagaimana Jenderal jika mereka tidak mau mendengar ucapan kita?”

Jend. Basuki : “Saya mengerti, karena saya rasa inipun memang perkara yang sulit untuk kita semua. Tetapi saya sangat yakin dan sangat berambisi, bahwa saya dapat merubah sikap mereka. Saya yakin mereka bukanlah anak-anak yang nakal sepenuhnya melainkan ada masalah tersendiri di diri mereka Broken home misalnya.”

Baca Juga :  Puisi; Kadzba

Bu Melisa     : “Jenderal benar, kita hanya tinggal menjaga kekompakan kita sebagai para pembina Basecamp”

Jend. Basuki : “Baiklah waktu sudah menunjukan pukul 14.00, sudah saatnya menjemput mereka. Dan Bu Aryanti, tolong segera siapkan makan untuk mereka. Ingat! sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan!”

Bu Aryanti    : “Siap Jenderal!!!”

ADEGAN 6

Di ruangan depan kamar penginapan…

 

Narizza        : “Gila kali, apa maksudnya kita diginiin?! ini tuh baru permulaan kebayang gak sih lo semua kedepannya kayak gimana? Ternyata lebih serem dibanding masa depan gue!”

Faizah          : “Bener, gak kira-kira aja kita disuruh push up, squat jump, hormat bendera dan yang paling parah kita disuruh merayap dari ujung lapangan ke ujungnya lagi terus balik lagi.”

Arsyad         : “Kalo gue tau bakal kayak gini ujungnya, gue ogah dibawa nyokap bokap gue kesini.”

Munief         : “Gue setuju, Syad, ya kali kita itu kayak kemiliteran tau disuruh kayak begini. Kalo model basecampnya kayak gini, sorry ini bukan area gue.”

Baron           : “Parah banget tu si Jenderal sama ibu-ibu rempong, dan yang paling gue gedeg pas kita disuruh merayap. Cicak kali merayap.”

Melvi            : “Gue bener-bener udah kagak betah disini baru aja beberapa jam disini udah menunjukan tanda-tanda kebetean, payah.”

Baron           : “Yang paling sial itu Gue. Sudah peralatan nge-game disita, terus jadi pencabut rumput malam-malam pulak!”

Arsyad                   : “Makanya Ron, kira-kira dong…”

Baron           : (merengek): “Iya iya gue tahu! Sedang apes aja gue!”

Ketika mereka tengah mentertawakan Baron yang PSV nya diambil datanglah pembina Basecamp.

Bu Arsi         : “Permisi anak-anak,”

Anak-anak    : “Iya buuu?”

Bu Arsi         : (tersenyum) “Jenderal mengintruksikan kepada saya, kalian segera bersih-bersih kemudian shalat Ashar. Kita bakal ada materi lain. Setelah itu kalian akan dapat jatah makan.”

Arsyad         : “Wahh… Makan nih. Ya udah yuk guys mending kita cepet-cepet gue udah laper, nih! Hehe…”

Faizah                    : “Ahh elu Syad, makan mulu yang dipikirin!”

Bu Ningtyas  : “Ya sudah silakan kalian pergi ke kamar mandi. Ingat! Manfaatkan waktu sebaik mungkin dan jangan sampai membuat rusuh dan onar lagi”

Narizza        : “Siap, Bu..!”

Melvi            : “Ihh… centil banget si tu ibu-ibu rempong kalo kagak inget nyokap gue cewek udah gue tonjok kali mukanya.”

Munief         : “Udah-udah buruan deh kita ke kamar mandi nanti kita dihukum lagi.”

next-page-rd-300x100-1

1
2
3
4
5
6
SHARE

7 COMMENTS

  1. […] Naskah Drama Bahasa Indonesia Berjudul “BASECAMP” Sebelumnya daku sudah sharing naskah drama Bahasa Indonesia “Pewaris Tahta”. Kali ini daku kembali dengan naskah drama yang agak berbeda. Yang satu ini masih karya asli dari anak SMA Negeri Darma. Namanya adalah Ayu Musniyati, yang sekaligus menjadi penanggung-jawab drama ini. Kebetulan Ayu Cs juga berkewajiban menampilkannya dalam Mata […]Continue Reading […]

  2. maaf mbak saya mau minta izin makai naskah ini untuk pentas saya disekolah saya dan saya juga minta izin untuk merombak sedikit naskah ini tapi saya tidak akan menghilangkan maksud dan pesan yang ada di dalam naskah ini
    terima kasih

    • maaf mbak saya mau minta izin mau pakai naskah ini buat projek film disekolah saya tapi saya juga minta izin untuk merombak sedikit naskah ini tapi saya tidak akan menghilangkan maksud dan pesan yang ada di dalam naskah ini
      ini alamat email saya kalau memang mengizinkan
      gita.dwy587@gmail.com

Comments are closed.