Naskah Drama Bahasa Indonesia Berjudul “BASECAMP”

7
SHARE

ADEGAN 7

Merekapun bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Kalau sudah bersama, keributan diantara mereka memang tak terelakkan. Termasuk ketika di mushola. Suasana di sana masih gaduh sampai tiba-tiba,

Bu Melisa     : “Anak-anak, apakah kalian sudah selesai shalat?”

Anak-anak    : “Sudah buuu…” (jawab kompak)

Bu Melisa     : “Baiklah, jika kalian sudah selesai. Kalian segera masuk ke ruangan.” (tersenyum)

Anak-anak    : “

Di sebuah ruangan, mereka dihadapkan pada pemandangan yang bikin kening mengerut. Pasalnya ada aneka pakaian, sepatu, setrikaan, sabun cuci, dan semacamnya. Tetapi mereka patuh saja ketika dimintai untuk membentuk kelompok kecil, sesama laki-laki dan sesama perempuan.

Bu Ningtyas  : “(menunjuk Melvi) Coba kamu siapkan dan nanti pakaikan seragam sekolah ini pada Faizah.”

Melvi            : “Idih ogah, emangnya aku ini baby sitter-nya dia?! Mana seragamnya kusut lagi!”

(Narizza tertawa puas)

Bu Ningtyas  : “Lakukan saja, nanti saya koreksi pemakaiannya. Dan Narizza, nanti kamu bertugas mencuci pakaian yang sudah dipakai Faizah.”

(giliran Melvi yang terbahak-bahak)

Para pembina mengajarkan cara berpakaian yang baik dan benar. Yang dibahas itu tentang kerapihan, kebersihan, padu-padannya, sampai menyesuaikan dengan penampilan rambut atau wajah. Tak lupa, yang perempuannya juga diinstruksikan untuk tidak mengenakan perhiasan atau make up berlebih.

Lepas itu, mereka kembali ke kamar inap untuk beristirahat sampai waktu isya tiba. Pada pukul 19.30, mereka diminta untuk berkumpul kembali di ruangan.

Bu Arsi         : “Selamat datang, Anak-anak”

Bu Devina     : “Anak-anak silahkan kalian atur duduk yang rapi dan tolong putra dan putri dipisah!”

Bu Aryanti    : “Makanan sudah siap, tenang yah. Bu Melisa tolong bantu saya membagikan makanan ini!”

Bu Melisa     : “Baik, Bu Aryanti”

Bu Ningtyas  : “Anak-anak, apakah sudah kebagian semua?”

Narizza        : “Bu? Ini beneran cuma roti sama butter doang?”

Melvi                     : “Kalau menunya cuma ginian, perutku bisa tarlingan terus sampai malam!”

Faizah                   : “Ada tambahan serbet sama pisau kecil, nih!”

Munief         : “Yang bener bae?”

Jend. Basuki : “Diam dulu semuanya.”

Suasana langsung hening.

Bu Ningtyas  : “Ini baru dessert, anak-anak. Dan, jangan ada yang menyentuh atau memakan hidangannya lebih dahulu. Tunggu perintah dari kami.”

Anak-anak    : “Baik, Bu.”

Bu Aryanti    : “Nah, sekarang kita berdo’a dulu sebelum makan. Biar Jendral yang memimpin.

Baca Juga :  3 Tips Inti Agar Anak Mau Tidur di Kamarnya Sendiri

Jendral        : “(sembari menadahkan tangan) Ya Allah terimakasih atas rezeki yang engkau berikan kepada kami, semoga rezeki ini bisa menjadi berkah untuk kami. Aamiin…!”

Bu Aryanti    : “Sekarang ambil rotinya pakai tangan kanan, pindahkan ke tangan kiri, lalu sobek.”

Bu Ningtyas  : “Bagus… bagian roti yang besarnya disimpan di piring. Yang kecil, yang sedang kalian pegang itu pindahkan ke tangan kiri.”

Bu Devina     : “Selanjutnya, ambil pisau untuk mencolek butter. Oleskan perlahan pada roti yang ada di tangan kiri. Taruh pisaunya, dan silakan makan.”

Melvi            : “Makan roti aja ribet banget, ya?!”

Narizza        : “Hooh, biasanya langsung leub!”

Bu Ningtyas  : “Kalau sedang makan itu jangan banyak ngobrol!”

Selanjutnya mereka juga menikmati cream of mushroom soup. Prosesnya pun tak jauh dari keributan. Tak lama kemudian, Bu Melisa membawa hidangan lain yang mereka sebut main course. Ada setengah porsi nasi merah, sayur bayam, dan pepes ikan. Lagi-lagi, para pembina harus memarahi mereka yang ngobrol atau main gadget ketika makan. Diam-diam, para pembina mengajarkan mereka untuk menikmati quality time yang ada. Termasuk kelak kalau pulang ke rumah.

Bu Aryanti    : “Anak-anak bagaimana, nasinya sudah habis semua?”

Anak-anak    : “Sudah, Buuu…”

Bu Aryanti    : “Bu Melisa tolong ambilkan minum untuk mereka dan biar bu Arsi yang memberi mereka minum!”

Bu Melisa     : “Baik bu Aryanti… ini Bu Arsi tolong kasih mereka!”

Bu Arsi         : “Waktunya minum anak-anak!”

Faizah                   : “Cuma segelas air mineral, ya?”

Munief         : “Yang bener bae?!”

Bu Devina     : (sedikit menahan tawa) “Memang maunya apa? Kita harus bersyukur masih diberi nikmat berupa air bersih. Di negara lain, air bersih menjadi barang mahal.”

Jend. Basuki : “Baiklah anak-anak, waktu makan sudah habis. Saya akan pimpin do’a kembali, lalu kita berwudhu dan kumpul di mushola.”

Jend. Basuki kembali memimpin do’a setelah makan, setelah mereka selesai berdo’a mereka pun bergegas buru-buru mengambil air wudhu. Mereka bergegas ke mushola dan mengikuti dzikir malam yang diperintahkan. Mereka juga disodori video menyentuh tentang ibu via LCD projector. Setelah selesai, Jenderal Basuki kembali mengumumkan sesuatu.

Baca Juga :  8 Tips Jitu Agar Bisa Menguasai Kelas Ketika Mengajar Hari Pertama

Jend. Basuki : “Anak-anak setelah ini kalian boleh beristirahat. Persiapkan tenaga untuk kegiatan besok. Dan untuk para pembina Basecamp, setelah ini kalian saya tunggu di ruang rapat.”

Pembina      : “Baik, Jenderal”

Anak-anak    : “Terimakasih Jenderal.”

Mereka pun bubar dari Mushola menuju kamar inap sedangkan para pembina menuju ruang rapat.

ADEGAN 8

Jend. Basuki : “Sebelumnya saya minta maaf kita harus rapat dadakan. Karena rapat ini dipandang perlu untuk membahas mengenai agenda rutin anak-anak didik kita. Dan saya sudah menemukan cara bagaimana kita menghadapi mereka.”

Bu Melisa     : “Cara seperti apa itu Jenderal”

Jend. Basuki : “Kini saya mengerti, kenapa mereka berbicara tidak sopan kepada saya dan kalian. Mereka hanya merasa kaku saja, mereka hanya menginginkan suasana yang asyik untuk mengobrol. Karena sejak tadi siang kita terlalu kaku dalam berbicara. Kita terlalu terpaku pada agenda kita sebagai pembina di Basecamp yang mengharuskan tegas dalam mendidik.”

Bu Arsi         : “Jenderal ada benarnya juga, menurut saya. Mereka hanya ingin mengikuti peraturan jika kita santai.”

Bu Ningtyas  : “Tapi jika kita santai menghadapi mereka, bukankah mereka akan semakin membangkang?”

Bu Devina     : “Benar apa yang dikatakan Bu Ningtyas, berbicara santai kepada mereka sama saja dengan kita tidak mendiddik mereka… sama saja kita memberi kebebasan kepada mereka.”

Bu Aryanti    : “Benar Jenderal, sedangkan pendidikan yang harus kita terapkan itu harus benar-benar keras bukan malah memanjakan mereka”

Jend. Basuki : “Bukan itu maksud saya, pendidikan yang kita terapkan di Basecamp ini memang harus keras untuk menyadarkan mereka. Tapi kita hanya perlu merubah cara komunikasi kita terhadap mereka. Misalnya sedikit ada candaan.”

Bu Arsi         : “oh ya… saya mengerti maksud Jenderal, kita hanya perlu memperbaiki komunikasi. Kita jangan terlalu jutek saat bertemu, kita hanya perlu menunjukan wibawa kita sebagai pembina yang baik untuk mereka.”

Bu Devina     : “Apa Bu Asri yakin dengan cara ini? Anak-anak tengil seperti mereka tahu arti dari wibawa itu sendiri?”

Bu Melisa     : “Saya setuju dengan Bu Asri, kita sendiri yang harus menjaga wibawa kita sebagai pembina. Karena pada dasarnya wibawa dengan ditakuti itu beda. Jika mereka takut terhadap kita itu hanya karena peraturannya saja sedangkan di belakang kita mereka tidak nyaman. Jika kita punya wibawa, mereka akan segan mau di depan di belakang kita mereka akan tetap menjaga etika mereka sebagai seorang pelajar.”

Baca Juga :  Puisi; Kadzba

Jend. Basuki : “Bu Melisa benar, itulah yang saya maksud. Tunjukan wibawa bukan tampang seram, saya yakin cara ini lambat laun dapat merubah sikap mereka.”

Bu Aryanti    : “Ya baiklah. Mulai besok kita harus terapkan ini semua…”

Jend. Basuki : “Baiklah ini sudah malam juga, saya rasa rapat kali ini sudah cukup. Silakan kalian beristirahat!”

Pembina      : “Siap, Jenderal.”

Akhirnya rapat malam itu menunjukan titik terang, para pembina pun beristirahat di kamar inap masing-masing. Begitu pun dengan Jenderal Basuki.

ADEGAN 9

Waktu terus berlalu sampai menunjukan pukul 4 pagi, para pembina sudah stand by untuk membangunkan anak-anak.

Jend. Basuki : “Baiklah tugas untuk membangunkan anak-anak pagi ini adalah Bu Melisa, memasak sarapan Bu Aryanti dan Bu Asri. Memimpin olahraga pagi Bu Devina dan Bu Ningtyas. Ingat! semua itu harus berjalan sesuai prosedur dan ingat management waktu sangat penting. Tepat pukul 6 kita akan melaksanakan apel pagi.”

Pembina      : “Siap, Jenderal.”

Para pembina pun segera bergegas menjalankan tugasnya masing-masing. Jenderal Basuki dan Bu Melisa bersiap membangunkan anak-anak. Sesampainya di kamar inap anak-anak.

Jend. Basuki : (Menyalakan alarm memakai toa)

Bu Melisa     : (teriak) “Ayo bangun… sudah pagi, waktunya shalat subuh. Ayo cepat!!!”

Jend. Basuki : “Ayo cepat!!!” (kembali menegaskan)

Anak-anak pun merasa bising dengan suara alarm toa juga suara Bu Melisa dan Jenderal Basuki, dengan mata yang masih dikucek-kucek antara sadar dan tidak, mereka bergegas mengambil air wudhu di kamar mandi.

 

Setelah selesai shalat subuh berjamaah Jenderal Basuki memberi intruksi kembali.

Jend. Basuki : “Anak-anak setelah ini kalian menggunakan pakaian olahraga tepat pukul 06.00 kalian sudah harus kumpul di lapangan untuk melaksanakan olahraga dan apel pagi. Ingat jika kalian telat lagi sanksi lebih berat lagi.”

Anak—anak   : “Siap, Jenderal’

Mereka pun bergegas untuk mengganti pakaian mereka dengan pakaian olahraga. Waktu terus berjalan, jam menunjukan hampir pukul 06.00 namun kini anak-anak sudah stand by di lapangan.
next-page-rd-300x100-1

1
2
3
4
5
6
SHARE

7 COMMENTS

  1. […] Naskah Drama Bahasa Indonesia Berjudul “BASECAMP” Sebelumnya daku sudah sharing naskah drama Bahasa Indonesia “Pewaris Tahta”. Kali ini daku kembali dengan naskah drama yang agak berbeda. Yang satu ini masih karya asli dari anak SMA Negeri Darma. Namanya adalah Ayu Musniyati, yang sekaligus menjadi penanggung-jawab drama ini. Kebetulan Ayu Cs juga berkewajiban menampilkannya dalam Mata […]Continue Reading […]

  2. maaf mbak saya mau minta izin makai naskah ini untuk pentas saya disekolah saya dan saya juga minta izin untuk merombak sedikit naskah ini tapi saya tidak akan menghilangkan maksud dan pesan yang ada di dalam naskah ini
    terima kasih

    • maaf mbak saya mau minta izin mau pakai naskah ini buat projek film disekolah saya tapi saya juga minta izin untuk merombak sedikit naskah ini tapi saya tidak akan menghilangkan maksud dan pesan yang ada di dalam naskah ini
      ini alamat email saya kalau memang mengizinkan
      gita.dwy587@gmail.com

Comments are closed.