Naskah Drama Bahasa Indonesia “Pewaris Tahta”

1
SHARE

Naskah Drama Bahasa Indonesia Lengkap

“Pewaris Tahta”

Karya: Agnes Selpiani

Pada zaman dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Pohaci, yang dipimpin oleh raja yang baik dan bijaksana bernama Raja Galuh mempunyai seorang istri bernama Ratu Wanggi dan dua orang putri bernama Putri Sri dan Putri Pandan. Karakter kedua putri tersebut sangat bertolak belakang.

Pada pagi hari, Sang raja sedang duduk diatas singgahsananya, terjadilah perbincangan yang serius didalam istana dan mengumpulkan para putri, permaisuri dan kedua dayang itu.

ADEGAN 1

[[Lagu Sedih]]

Raja                : “Maaf jika pagi ini aku kumpulkan kalian semua disini.”

Ratu               : “Iya, Kanda…”

Raja               : “Usiaku dan istriku tidak semuda dulu, dan kini kedua putriku sudahlah dewasa (Menengok kedua putrinya). Dayang…”

Dayang Wati & Rasti         : “ Iya, Raja (Menundukkan kepala).

Raja                      : “Dayang, aku memanggilmu ke sini karena aku membutuhkan bantuanmu.”

Dayang Rasti    : “Ampun, Raja, apa yang sekiranya bisa hamba bantu? (Menundukkan kepala).

Dayang Wati          : “Iya, Raja (Menundukkan kepala).

Raja                      : “Begini, Dayang, aku membutuhkan kalian untuk mendampingi kedua putriku ini.”

Dayang Wati & Rasti         : “Baiklah, Raja, dengan senang hati hamba membantumu.”

Raja                      : “Terima kasih, Dayang. Nah, Dayang Wati…”

Dayang Wati                    : “Hamba, Raja?”

Raja                      : “Kutugaskan engkau untuk mendampingi putriku, Pandan.”

Dayang Wati                    : “Baik, Raja.”

Raja                      : “ Dayang Rasti…”

Dayang Rasti          : ”Hamba, Raja.”

Raja                      : “Kutugaskan engkau untuk mendampingi putriku, Sri.”

Dayang Rasti          : “Baik, Raja.”

Raja                      : “Putriku… ayah harap kalian dapat bekerja sama dengan dayang kalian.”

Kedua putri            : “Iya, Ayah…”

Raja                      : “Sekarang kalian boleh pergi…”

Semuanya meninggalkan tempat itu, dan tiba-tiba sang Ratu menghampiri Raja

Ratu             : “Kakanda.. seperti yang kanda ketahui umur kita tidaklah semuda dulu. Kini umur kita semakin senja. Sudah semestinya Kanda menurunkan tahta kepada putri-putri kita.”

Raja             : “Iya Dinda .. Kandapun ingin menurunkan tahta kepada putri-putri kita, tapi Kanda bingung harus menurunkan tahta ini kepada siapa”.

Ratu             : “Kalau begitu bagaimana jika Kanda memberikan tahta kepada putri kita yang tertua?”

Raja             : ”Tidak, Dinda (berdiri). Jika seperti itu caranya, tidak adil rasanya bagi putri kita yang kedua, karena kita tidak tahu apakah putri Sri mempunyai potensi menjadi ratu atau tidak.”

Ratu             : “ (Memegang pundak) lalu, bagaimana?  apa yang akan Kanda lakukan?”

Raja             : “ (Melepaskan pegangan dan membalikkan badan menghadap ratu) Sebaiknya Dinda jangan terburu-buru, besok kita pikirkan lagi”.

Ratu             : “ Baiklah, Kanda (tersenyum).

ADEGAN 2

Di halaman belakang istana terlihat putri Pandan sedang duduk bersama dayang Wati

Dayang Wati          : “(Mengipas-ngipas sang putri).

Pandan        : “Dayang,  semalam aku bermimpi bertemu pangeran (tersenyum).

Dayang Wati          : “Benarkah? seperti apakah rupanya?”

Pandan        : “Dia sangat tampan (sembari membayangkan), dan sepertinya dia baik.”

Dayang Wati          : “(Duduk disamping sang putri) apakah sebelumnya putri pernah bertemu pangeran itu?”

Pandan        : “(Menggelengkan kepala kemudian berdiri) Tidak dayang aku belum pernah bertemu dengan seorang pangeran.”

Tiba-tiba Putri Sri datang menghampiri Putri Pandan.

Baca Juga :  Puisi; Kadzba

Sri               : “(Menatap Putri Pandan) Hai, adikku… apa yang sedang engkau lakukan di halaman belakang istana kerajaan?”

Pandan        : “ (Tersenyum) Tidak ada, Kakak ku. Aku hanya sedang mencari udara sejuk.”

Sri               : “Bolehkah aku menemanimu, adikku?’’

Pandan        : “Dengan senang hati, (Tersenyum dan duduk) duduklah di sampingku.”

Sri               : “(Putri Sri pun duduk) apa yang sedang kau pikirkan adikku ?”

Pandan        : “(Gugup) Ti…tidak ada yang ku pikirkan kak.”

Sri               : “Aku tahu kamu sedang berbohong, ceritakan kepadaku apa yang sedang kau pikirkan adikku?”

Pandan        : “Sebenarnya tidak ada yang sedang ku pikirkan.. hanya saja semalam aku bermimpi aneh.”

Sri               : “Bermimpi aneh ? mimpi apa, Adikku?”

Pandan        : “Aku bermimpi dengan seorang pangeran yang sangat tampan.”

Sri               : “(Tertawa) Tidak mungkin kau memimpikan seorang pangeran, sedangkan kau pun belum pernah bertemu dengan seorang pangeran.”

Pandan        : “Tapi sungguh, Kak, semalam aku memimpikan seorang pangeran.”

Sri               : “(Sembari berdiri dan tertawa) Aku tak percaya kau memimpikan seorang pangeran (Pergi berlalu meninggalkan putri Pandan).


ADEGAN 3

Pagi yang cerah disambut dengan kicauan burung yang merdu memantapkan sang Raja dan Ratu untuk menyampaikan berita kepada kedua putrinya.

[[Suara burung]]

Raja             : “(Duduk diatas singgahsana) Dinda, hari ini aku akan menyampaikan keputusanku.”

Ratu             : “Baiklah, Kanda (Duduk diatas singgahsana).

Raja             : “Dayang Wati, Dayang Rasti…

Para Dayang           : “Ampun Baginda, ada apa Baginda memanggil kami?” (Menundukkan kepala).

Raja             : “Dayang, beritahu kepada kedua putriku untuk datang kemari.”

Para Dayang           : “Baik, Baginda. ”

Para dayang pun segara menyampaikan pesan Baginda Raja kepada Putri Pandan dan Putri Sri. Dan, kedua putri Raja segera menemui Raja.

Putri Sri       : “Ada apa gerangan ayahanda memanggil kami untuk datang menghampirimu ayah?”

Putri Pandan : “Iya ayahanda, ada apa? Apakah kami melakukan kesalahan?”

Ratu             : “Tidak anakku, kalian sama sekali tidak melakukan kesalahan sedikitpun (suara lebih lembut).

Raja             : “Apa yang ibumu katakan itu benar, Putriku (tersenyum)”.

Putri Sri       : “Lantas ada apa ayah memanggil kami?”

Raja             : “Ada satu hal yang ingin ku sampaikan kepada kalian putriku.”

Putri Pandan : “Apa itu, Ayahanda?”

Raja             : “Putriku… usia ayah dan ibumu sudah tua kami membutuhkan pemimpin untuk memimpin kerajaan ini”.

Ratu             : “Benar, Putriku… kami harus memilih salah satu diantara kalian untuk meneruskan tahta dikerajaan ini.“

Putri Sri       : “Aku siap, Ayahanda, untuk meneruskan tahtamu (Dengan penuh percaya diri)”.

Raja             : “(Sembari berdiri dan berjalan) Tidak, putriku… ayahanda tahu kamu putri pertama dikerjaan ini.”

Putri Sri       : “Lantas mengapa ayahanda tidak mengizinkanku untuk meneruskan tahtamu? (nada sedikit naik).

Raja             : “Putriku, di dunia ini semua manusia mempunyai kesombongan dan keserakahan, mereka tidak pernah puas atas apa yang mereka dapatkan.”

Putri Sri       : “Apa maksud dari perkataanmu itu ayah ? (sangat bingung).

Raja             : “(Tegas) Ayah akan mengadakan sayembara untuk kalian berdua.”

Kedua putri : “Sayembara apakah itu, Ayahanda ?”

Raja             : “Jika diantara kalian berdua ada yang berhasil bertemu dengan seorang pangeran dan memiliki hubungan yang baik dengannya, maka dialah yang pantas memimpin kerajaan ini (Tegas)”.

Baca Juga :  Masakan Daging Sapi Ala Barat yang Cocok untuk Lidah Indonesia

Kedua Putri sangat terkejut dengan perkataan yang disampaikan ayahnya…

Putri Pandan : ”(Ragu) Apakah ayahanda sudah memikirkan hal ini?”

Raja             : “Ayah sudah memikirkan hal ini di jauh-jauh hari.”

Putri Pandan : “Tapi Ayahanda, (Menghampiri ayahnya) bagaimana kami bisa bertemu seorang pangeran?”

Putri Sri       : “Benar ayahanda… (meyakinkan ayahnya) sedangkan sebelumnya kami belum pernah mengembara keluar kerajaan ini.”

Raja             : “Tenanglah putriku, hanya inilah satu-satunya cara untuk menentukan siapa yang akan meneruskan tahta ini.”

Putri Sri       : “(Melirik putri Pandan dengan serius) Baiklah, Ayahanda ,jika itu memang keputusanmu…”

Putri Pandan : “Ya, Ayahanda…”

Raja dan Ratu : “(Tersenyum)

Kedua putri : “Hormat kami, Ayahanda, Ibu… kami permisi (kedua putri meninggalkan singgahsana).

 

ADEGAN 4

Putri Sri pergi ke halaman belakang istana dan berbicara sendiri sebelum datang Dayang Rasti

Putri Sri       : “(Kesal) Sayembara macam apa ini ? Untuk menjadi seorang ratu di kerajaan ayahku sendiri susah sekali.”

Dayang Rasti : “(Menghampiri putri) ampun putri, ada apa gerangan putri seperti kesal?”

Putri Sri       : “Ya, Dayang, hari ini aku sangat kesal (nada naik).

Dayang Rasti : “Apa yang membuat putri kesal? (penasaran).

Putri Sri       : ”Ayahanda menginginkan salah satu dari putrinya menjadi penerus tahta kerajaan (tegas).

Dayang Rasti : “Lantas mengapa putri kesal? Bukankah itu kabar baik untuk putri?”

Putri Sri       : “Harusnya ini kabar baik untukku tapi sayangnya ini buruk (Nada naik).

Dayang Rasti : “Mengapa putri berkata demikian? Ini kesempatan putri untuk menjadi seorang ratu, karena putri adalah anak pertama dari Raja Galuh.”

Putri Sri       : “Tidak semudah itu dayang Rasti.”

Dayang Rasti : “Mengapa putri?”

Putri Sri       :”Ayahanda memberikan sebuah syarat untuk menjadi seorang ratu di kerajaan ini.”

Dayang Rasti : “Syarat? Syarat apakah itu putri?.”

Putri Sri       :“(Berdiri dan sangat kesal) Ayahanda menginginkanku untuk memiliki hubungan baik dengan seorang pangeran, barulah salah satu diantara kami bisa menjadi penerus tahta kerajaan”.

Dayang Rasti : “Ini kesempatan putri untuk mengalahkan Putri Pandan (sinis dan jahat menghasut putri).

Putri Sri       : “Apa maksudmu, Dayang?”

Dayang Rasti :”Iya, Putri… Putri lebih cantik dibandingkan Putri Pandan. Semua pangeran pasti akan menatapmu putri (Menghasut).

Putri Sri       :”Kamu betul, Dayang… Aku memang sangat cantik (percaya diri).

 

ADEGAN 5

Di sisi lain ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Segon yang di pimpin oleh Raja Tamrin, namun dia telah wafat kini ditinggalkan seorang Ratu yang bernama Kentring Manik dan Bude  Pangeran yang bernama Lara, sedang terjadi perbincangan yang serius antara sang ratu dan kakaknya dalam istana kerajaan.

Bude Lara              :”Adikku… Apa yang sedang kau pikirkan?”

Ratu Kentring Manik :”Tidak ada, Kak (wajah yang cemas).

Bude Lara              : ”Lantas mengapa wajahmu cemas, apa yang sedang kamu khawatirkan?”

Ratu kentring manik : “(Berdiri sembiri berjalan) Hmm… sebenarnya aku mencemaskan kemajuan kerajaan ini.”

Bude Lara              : “Mengapa kau berkata seperti itu?”

Ratu Kentring Manik : “Aku khawatir jika kerajaan ini tidak berjalan dengan semestinya.”

Bude Lara              : “Apa yang sedang kau bicarakan ini, Adikku?”

Ratu Kentring Manik         : “Iya, Kak, aku sangat khawatir dengan kerajaan ini, karena semenjak suamiku wafat hanya akulah yang memimpin kerajaan ini.”

Baca Juga :  Harga Corolla Altis dan Keunggulan Yang Mengagumkan

Bude Lara              : “Apa yang Engkau permasalahkan? Bukankah kerajaan Tamrin masih sama seperti dahulu?”

Ratu Kentring Manik         : “Iya… walaupun demikian, seperti yang engkau ketahui usiaku tidaklah semuda dulu.”

Bude Lara              : “(Berdiri dan menghampiri) Adikku… aku mengerti dengan keadaan saat ini.”

Ratu Kentring Manik         : “Aku berpikir, sudah saatnya untuk memberikan tahta kerajaan kepada putraku pangeran Arya.”

Bude Lara              : “Apakah kau telah memikirkan hal itu?”

Ratu Kentring Manik         :“Iya, Kak, aku telah memikirkan hal ini (Tegas).

Bude Lara              : “Lantas apakah kamu yakin dengan keputusanmu itu, Adikku? (Berkata seolah ragu).

Ratu Kentring Manik         : “(terdiam sejenak)

Bude Lara              : “Apa yang sedang engkau pikirkan, Adikku?”

Ratu Kentring Manik         : “Sekarang usia putraku sudah cukup dewasa, apakah tidak sepantasnya aku menurunkan tahta kerajaan ini kepada putraku, Arya?”

Bude Lara     : “Tapi adikku, apa hal ini sudah kamu pikirkan dengan matang?”

Ratu K.M      : “Sudah, Kak, aku yakin dia bisa memimpin kerajaan ini dengan bijaksana (Dengan wajah yang meyakinkan).

Bude Lara     : “(Tersenyum)

Ratu K.M      : “(Duduk di kursi) aku tahu bahwa dia belum mengerti tentang kepemimpinan kerajaan ini, tetapi secara perlahan dia bisa mempelajarinya (Meyakinkan).

Bude  Lara    : “Bagaimana jika Arya belum bisa melaksanakan tanggung jawabnya, bagaimana jika dia gagal? (Lembut).

Ratu K.M      : ”(Menengok dan memegang pundak bude) Jangan berpikiran seperti itu, Kak, aku yakin dia mampu karena dia adalah putraku, putra dari raja Tamrin, suamiku (tersenyum).

Bude Lara     : “Baiklah, Adikku, jika itu keputusanmu (melihat wajah adiknya), Aku setuju dengan keputusanmu (tersenyum).

Ratu K.M      :”Terima kasih, Kak.”

 

ADEGAN 6

Keesokan harinya, sang ratu memanggil putranya untuk menemuinya di istana.

Pangeran Arya        :”Salam ibunda (menundukkan kepala dan badan).

Ratu K.M                 :” Salam putraku.”

Pangeran Arya  :”Ada apa gerangan ibunda memanggilku ke sini? (Tanya penasaran).

Ratu K.M      :”Wahai putraku, saat ini ada yang  ingin aku sampaikan kepadamu (wajah serius).

Pangeran Arya        :”Hal apakah itu bunda?”

Ratu K.M      :”Ini menyangkut dengan masa depan kerajaan kita putraku.”

Pangeran Arya        : “Apakah gerangan itu, Ibu? Apakah yang ingin engkau sampaikan kepadaku tentang kerajaan? (Tanya penasaran).

Ratu K.M      : “Kini umur ibu tidaklah semuda dulu, sudah sepantasnya ibu mempercaya engkau sebagai penggantiku untuk memimpin kerajaan ini.”

Pangeran Arya        :”Tapi ibu, apakah aku bisa memimpin kerajaan ini?”

Ratu K.M      :”Percayalah akan dirimu putraku (Tersenyum sembari memegang pundak putranya).

Pangeran Arya        :”Baiklah ibu (Tersenyum).

Ratu K.M      :”Apakah kamu bersedia putraku?”

Pangeran Arya        :”Baik ibu jika itu yang engkau mau, aku bersedia menuruti titahmu itu (Dengan suara lantang).

Ratu K.M      :”Apakah kamu bersungguh-sungguh dengan perkaanmu itu putraku? (Menatap mata Pangeran Arya).

Pangeran Arya        :”Aku bersungguh-sungguh, Ibunda, aku akan menjadi raja seperti ayah, bahkan lebih baik dari ayah.”

Ratu K.M      :”Baiklah, Putraku, aku pegang janjimu (tersenyum bahagia).

next-page-rd-300x100-1

1
2
3
4
5
SHARE

1 COMMENT

Comments are closed.