Naskah Drama Bahasa Indonesia “Pewaris Tahta”

1
SHARE

ADEGAN 7

Keesokkan harinya sang bude menemui pangeran di ruang tempat dia menyimpan pedang yang diberikan ayahnya sewaktu ia masih hidup, dan pangeran sedang membersihkan pedang tersebut.

Bude Lara     : ”Bolehkah bude bicara sebentar denganmu, Nak?”

Pangeran      : ”Ya bude, tentu saja (menyapanya sembari tersenyum).

Bude Lara     :”Ada suatu hal yang ingin bude bicarakan kepadamu (Berkata serius).

Pangeran      :”Katakan saja bude, hal apa itu?”

Bude Lara     :”Apakah kau tidak ingin memiliki seorang pendamping?”

Pangeran      :”(Terdiam sejenak) Mengapa bude berbicara seperti itu?”

Bude Lara     :”Ya, Nak, usiamu sekarang sudah cukup dewasa.”

Pangeran      : ”Lantas ada apa dengan usiaku, Bude?”

Bude Lara     : ”Apa kamu tidak ingin mencari pendamping hidup untuk mendampingimu?”

Pangeran      : ”Mana ada, Bude, seorang putri yang ingin menjadi pendampingku?”

Bude Lara     :”(Memegang pundak pangeran) Mengapa kamu berbicara demikian?”

Pangeran      :”Tak apa, Bude, aku hanya belum siap.”

Bude Lara     :”(Menasehati pangeran) Dengar, Nak, jangan terlalu merendahkan dirimu seperti itu.”

Pangeran      : ”Tapi bude…”

Bude Lara     :”Kau adalah seorang pangeran yang akan memimpin kerajaan ini, percayalah kepada dirimu sendiri, Nak.”

Pangeran      :”(Menengok ke arah bude) Baiklah, Bude. Terima kasih atas nasihatmu.”

Bude Lara     :”(Tersenyum)

Pangeran      :”(Memeluk sang bude) Bude adalah wanita kedua yang selalu mendukungku setelah ibu.”

Bude Lara     :”(Melepaskan pelukan sembari mengusap kepala pangeran)”.

Pangeran      : ”Terima kasih bude…”

 

ADEGAN 8

Pagi hari yang cerah pun Putri pandan sedang merawat bunga mawar dan daun pandan yang berada dihalaman belakang istana kerajaan karena ia sangat menyukai tanaman tersebut  sembari bercanda tawa bersama dayangnya.

Pandan        : “(Melihat bunga tersebut) Lihatlah, Dayang! bunga ini tumbuh dengan sempurna.”

Dayang Wati          : “Iya putri (tersenyum)

Pandan        : “Dayang bunga ini cantik sekali, bagaimana menurutmu?

Dayang Wati          : “Benar, Putri, bunga ini cantik sekali.”

Pandan        : “(Memegang bunga itu) Benarkah dayang?“

Dayang Wati          : “Iya, Putri, sungguh bunganya sangat cantik seperti dirimu (Tersenyum sembari melirik sang putri).

Pandan        : “(tersenyum malu)

Dayang Wati          : “Ampun putri, bolehkah saya bertanya kepada putri? (Menundukkan kapala dan berkata ragu).

Pandan        : “(Berdiri dan melihat dayang) katakanlah, Dayang ! Apa yang ingin kau tanyakan padaku ? (Tersenyum)

Dayang Wati          : “Ta-… tap-…tapi… (Penuh keraguan)

Pandan        : “Tak usah sungkan dayang, katakan saja!“

Dayang Wati          : “Ampun putri, aku ingin menanyakan mengenai keputusan sang Raja tentang Putri Pandan dan Putri Sri.“

Pandan        : “Mengapa, Dayang?“

Dayang Wati          : “Putri…. bagaimana dengan pangeran itu? apakah putri telah menemukannya? (Tanya penasaran).

Pandan        : “Tidak, Dayang. Aku belum menemukannya. Siapa yang akan menjadi pangeranku?“

Dayang Wati          : ”(Menghampiri sang putri sembari wajah gelisah) Apa tidak sebaiknya putri segera mencari pangeran tersebut?“

Pandan        : “(Tersenyum) Ada apa dayang sepertinya kamu cemas sekali?“

Dayang Wati          : “Iya memang benar, aku sangat mencemaskanmu dan kerajaan ini (Wajah cemas)

Baca Juga :  5 Kuliner Legendaris Asli Jakarta, Rasa Otentik Betawi Punya

Pandan        : “Apa yang kau cemaskan, Dayang? (Dengan penuh penasaran).

Dayang Wati          : “Aku cemas, Putri, aku sangat cemas jika putri Sri yang nanti akan memimpin kerajaan ini.“

Pandan        : “Mengapa dayang  berbicara seperti itu? Dia itu kakakku, Dayang.“

Dayang Wati          : “Ampun putri, (Menundukkan kepala ) Aku hanya sedikit meragukannya.“

Pandan        : “Tenanglah, Dayang, kau tak perlu cemas. Semuanya akan berjalan dengan lancar.“

Dayang Wati          : “(Wajah gugup) Tapi putri aku sangat ragu terhadap Putri Sri karena…“

Tiba-tiba datang putri Sri dan memotong pembicaraan putri Pandan dan dayang Wati, dan dayang pun sangat kaget.

Putri sri        : “(Menarik dayang Wati dari samping tempat duduk puti Pandan dengan  wajah marah) Apa yang kau katakan, Dayang?“

Dayang Wati          : ”Ti… tidak putri, aku ti.. dak mengatakan apa-apa (Dengan wajah gugup).

Sri               : “Kau kira telingaku ini tuli, Dayang?! (Dengan nada membentak)

Dayang Wati          : “Ampun, Putri (Menundukkan kepala).

Sri               : “Ingat, Dayang  Kau hanya seorang dayang di kerajaan ini! “ (Dengan nada membentak)

Dayang Wati          : “I… iya putri maapkan hamba (Menundukkan kepala dengan penuh rasa takut).

Sri               : “Camkan ini, Dayang ! Jika aku mendengar kau membicarakan aku dibelakangku lagi, kapanpun aku mau, akan ku usir kau dari istana ini!“

Dayang Wati          : “Jangan putri, maapkan hamba (Sembari meneteskan air mata dan menunduk memegang kaki putri Sri).

Pandan        : “(Berjalan menghampiri putri Sri) Sudahlah, Kak. Jangan marah. Dayang Wati tidak bersalah…“

Sri               : “(Putri sri membantah dan membentak putri Pandan) Diam kamu, Pandan! ini urusanku dengan dayangmu itu, kau tak perlu mencampuri urusanku ini!“

Pandan        : “(Berusaha untuk terus menasehati dan membujuk putri Sri) Sudahlah, Kak… “

Sri               : “Awas kau, Dayang (Menunjuk-nunjuk dayang Wati ).

Pandan        : “Sudah… ( Menurunkan tangan putri Sri) “.

Sri               : “ (Meninggalkan tempat itu dengan wajah marah dan kesal)

Pandan        : “(Menghampiri dayang Wati) Maafkan atas perlakuan kakakku dayang…“

Dayang Wati          : “Iya tidak apa-apa, Putri, ini memang salahku yang terlalu ceroboh (Meneteskan air mata).“

Pandan        : “Tidak dayang, tidak ada yang salah. Hapuslah air matamu. (Tersenyum)

Dayang Wati          : “Baik putri, terima kasih (Menatap putri dan menghapus air matanya).“

ADEGAN 9

Putri Sri masuk kamar dan marah-marah seraya memanggil-manggil dayang Rasti.

Sri               : “Dayang! Dayang! Dayang Rasti! ( berteriak-teriak)

Dayang rasti           : ”(Berlari segera untuk menghampiri putri Sri) Iya putri, ada apa berteriak memanggilku?“

Sri               : “Kau kemana saja sih, kau darimana saja aku panggil panggil dari tadi sampai aku kehausan (Dengan suara kesal dan membentak).

Dayang Rasti          : “Maa.. maapkan aku putri, hamba sudah dari luar istana, Putri (Menjawab dengan gugup).

Sri               : “Aku haus. Ambilkan aku minum. Cepat! ( Membentak)

Dayang Rasti          : “Baik, Putri… “

Tak lama kemudian dayangpun datang membawa segelas air yang diminta putri Sri.

Dayang Rasti          : “Ini minumnya, Putri “

Sri               : “(Mengambil dan meminumnya sampai habis) “.

Baca Juga :  Cara Aman Belanja Online Melalui Forum

Dayang Rasti : “Putri haus? (Bertanya gugup)

Sri               : “Iya dayang hari ini aku sangat haus.“

Dayang Rasti : “Tapi ada apa putri dengan hari ini? Tidak biasanya Putri seperti ini?”

Sri               : “(Berdiri dan berbicara dengan suara lantangnya) Hari ini aku sangat kesal dengan adikku dan dayangnya itu.“

Dayang Rasti          : “ Memangnya ada apa dengan mereka, Putri ?“

Sri               : “Mereka membuatku sangat  jengkel hari ini.“

Dayang Rasti          : “(Berbicara didalam hatinya) Ini kesempatanku untuk menghancurkan mereka.“

Sri               : “Mengapa kau diam, Dayang ? (Membalikkan badan dan menengok dayang) “.

Dayang Rasti          : “Tidak, Putri (tersenyum) “.

Sri               : “Apa yang sedang kau pikirkan saat ini, Dayang ? Katakanlah!“

Dayang Rasti          : “Aku hanya berpikir. Mereka pasti mempunyai maksud jahat untuk mengalahkan Putri supaya Putri tidak bisa menjadi ratu pewaris tahta, Putri.( Membalikkan badannya sembari  berkata sinis) “.

Sri               : “(Menghampiri dayang dan memegang pundaknnya) Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?“

Dayang Rasti          : “Iya, tidakkah kau sadari mereka selalu membicarakan dan menjelekan mu dibelakang?“

Sri               : “Kau benar, Dayangku. (Melepaskan peganganya).

Dayang Rasti          : “Sebaiknya putri lakukan sesuatu, dan segeralah dapatkan pangeran itu (menghasut sang Putri).“

Sri               : “Kau benar dayang, akulah wanita tercantik di negeri ini, tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan kecantikanku (tertawa jahat).“

Dayang Rasti          : “( Tertawa licik) Aku akan setia mendampingimu putri.“

Sri               : Bagus dayang, kau memang dayang terbaik untukku (Berbicara sinis).“

Dayang Rasti          : “Terimakasih putri.“

Sri               : “Iya Dayang.“

Dayang Rasti          : “(Berbicara dalam hati sambil menampakkan wajah sinisnya) Aku berhasi menghasutmu, Putri.“

Sri               : “Ada apa, Dayang ? Kenapa kau terdiam ?“

Dayang Rasti          : “Tidak, Putri (Tersenyum).

Sri               : “Baiklah, Dayang, sekarang kau boleh pergi.”

 

ADEGAN 10

Ketika putri Pandan sedang membujuk dayang Wati, tiba-tiba sang Ratu datang dan menghampiri mereka di halaman belakang istana.

Ratu             : “Putriku, apa yang sebenarnya telah terjadi disini?“

Pandan        : “Tidak ada apa-apa, Bu.“

Ratu             : “Lantas mengapa halaman belakang ini berantakan sekali? Dan mengapa dayang Wati menangis?”

Pandan        : ”Tidak ada apa-apa, Bu. Kami hanya sedang bermain (Dengan nada takut) “.

Dayang Wati          : “Benar Ratu, kami hanya sedang bermain (meyakinkan sang Ratu)

Ratu             : “Tapi mengapa kau menangis, Dayang? (Dengan nada heran).“

Dayang Wati          : “Aku hanya terharu mendengar kisah yang diceritakan Putri Pandan (Sembari menengok pada putri Pandan).“

Ratu             : “Benarkah itu, Putri?“

Pandan        : “Be… benar bu, tadi aku menceritakan sebuah kisah yang membuat dayang tidak dapat menahan air matanya, Bu (Dengan nada gugup).

Ratu             : “Baiklah putriku jika memang seperti itu (Tersenyum percaya).

Pandan        : “Iya, Bu(Tersenyum).”

Ratu             : “Dayang aku ingin berbicara sebentar dengan putriku.“

Dayang Wati          : “Baik Ratu, saya permisi.“

Dayang Wati pun pergi meninggalkan tempat itu dan Ratu pun berbincang-bincang dengan putrinya, dan tak lama kemudian tiba-tiba putri Sri mendengar perbincangan mereka.

Pandan        : “Ada apa bu ingin berbincang denganku ? Apa aku melakukan kesalahan? (nada ketakutan).“

Baca Juga :  Penyebab Utama Kegemukan dan Cara Mengatasinya

Ratu             : “Duduklah, Nak.“

Pandan                  : “Ada apa, Bu?“

Ratu             : “Putriku, bagaimana dengan rencanamu untuk memenuhi syarat dari ayahmu ?“

Pandan        : “Ibu tenanglah, jangan terlalu mencemaskanku.”

Ratu             : “Iya, Nak, Ibu selalu ada dibelakangmu dan ibu selalu mendukungmu, Sayang (memeluk putri Pandan).

Pandan        : “Terima kasih atas dukungannya, Bu, aku menyayangimu (memeluk ibu kembali).“

Ketika putri Sri melihat putri Pandan sedang memeluk ibunya, putri Sri sangat kesal dan marah. Dalam hatinya dia berkata dengan penuh kemarahan dan Raja pun menghampirinya.

Putri Sri       : “Aku pun selama ini belum pernah memeluk ibuku “.

Raja             : “Apa yang sedang kau lakukan disini, Anakku?”

Putri Sri       : “(Terkejut) Ayah…  kau membuatku terkejut, aku tidak sedang apa-apa, Ayah.“

Raja             : “Mengapa kau berdiri sendiri disitu?”

Putri Sri       : “Tidak ayah, tidak ada apa-apa. Oh ayah, mari kita pergi dari sini (Tersenyum dan langsung mengajak sang Raja pergi dari tempat itu).“

 

ADEGAN 11

Kini sore pun berganti malam dan putri Sri semakin marah, dia merasa dirinya selalu diasingkan  di Istana tersebut dan tidak ada yang mendukungnya seperti putri Pandan.

Putri Sri       : “Pandan, Pandan, dan Pandan terus yang selalu mereka perhatikan!

Dayang Rasti          : “Ada apa lagi, Putri ? Mengapa setiap hari kau selalu saja marah ?“

Putri Sri       : “Semua orang di Istana ini selalu membuatku kesal dan marah!”

Dayang Rasti          : “Tenangkanlah dirimu, ingat amarah dapat membakar dirimu sendiri !“

Putri Sri       : “(Meneteskan air mata) Kau bilang amarah dapat membakar diriku sendiri? Lalu apa yang harus ku lakukan saat ini, Dayang?”

Dayang Rasti          : “Tenanglah putri, gunakan pikiranmu itu, jangan kau gunakan amarahmu!”

Sri               : “Sekarang aku benar-benar sendiri, Dayang, semenjak ayah membicarakan hal itu (Menangis sedih).

Dayang Rasti          : “Tak perlulah kau bersedih putri…“

Sri               : “Apa kau tidak lihat, Dayang ? Ayah dan Ibu lebih memperhatikan Pandan dibanding diriku (sedih bercampur amarah) “.

Dayang Rasti          : “Untuk apa kau bersedih putri, simpan saja air matamu itu. Tak perlu kau pedulikan mereka yang tak pernah memperhatikanmu (Menenangkan sang putri) “.

Sri               : “(Bersandar di bahu dayang sembari meneteskan air mata) “.

 

ADEGAN 12

Keesokan harinya di Istana kerajaan, putri Pandan meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk ke hutan melihat bunga yang ia sukai.

Pandan        : “Ayah, Ibu, aku ingin meminta izin untuk pergi ke hutan.“

Raja             : “Hendak apa kau pergi kesana, anakku? (Dengan nada terkejut) “.

Pandan        : “Ayah, aku hanya ingin berjalan-jalan di luar sana dan menikmati alam dengan udara yang segar di pagi ini.“

Raja             : “(bimbang)

Pandan        : “Ayah, aku hanya pergi sebentar saja untuk melihat bunga di sana (Tersenyum, meyakinkan sang Raja bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya diluar sana).“

Raja             : “Baiklah, ayah mengizinknmu untuk pergi kesana, kau hati-hati disana!“

Pandan        : “Iya ayah, aku pergi dulu, ya (Tersenyum).

next-page-rd-300x100-1

1
2
3
4
5
SHARE

1 COMMENT

Comments are closed.