Naskah Drama Bahasa Indonesia “Pewaris Tahta”

ADEGAN 13

Di pagi yang sama, di istana Kerajaan Tamrin, tiba-tiba sang pangeran juga meminta izin untuk pergi ke hutan.

Pangeran      : “Bude, Ibu mana?“

Bude Lara     : “Ibumu masih di kamar, sebentar lagi dia juga keluar. Memangnya kamu mau pergi kemana, Nak, pagi pagi seperti ini ?“

Pangeran      : “Aku ingin pergi ke hutan, Bude, untuk melihat-lihat keadaan di sana.“

Ratu             : “(Datang menghampiri pangeran) Mau pergi kemana kamu, wahai anakku?“

Pangeran      : “Ibu, pagi ini aku ingin pergi ke hutan untuk melihat lihat keadaan disana.“

Ratu             : “Untuk apa kau pergi kesana?“

Bude Lara     : “Sudah biarkan saja, Adikku. Sekarang putramu sudah dewasa. Tak perlu kau mencemaskannya lagi. Dia sudah bisa menjaga dirinya baik-baik.“

Ratu             : “Baiklah. Pergilah, anakku. Hati-hati, jaga dirimu baik baik!“

Pangeran      : “Terimakasih, Bu, aku pamit berangkat dulu (Dengan wajah yang sangat gembira).“

 

ADEGAN 14

Pangeran pun pergi ke hutan, ketika telah sampai dihutan terdengarlah suara seseorang yang sedang berbicara.

Pandan        : “ Wah! Bunga ini cantik sekali (Memegang bunga tersebut).

Pangeran      : “(Melihat dari belakang pohon) Siapa gadis cantik itu?“

Pandan        : “(Merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya) Kok aku merasa ada orang yang sedang memperhatikanku, ya? (Tengok kanan-kiri-depan-belakang).“

Pangeran      : “(Terdiam dan bersembunyi dibelakang pohon).“

Pandan        : “Mungkin ini hanya perasaanku saja (Sembari memetik bunga-bunga indah itu).“

Pangeran      : “(Tiba-tiba menginjak kayu bakar kering dan terdengar oleh putri Pandan) “.

Pandan        : “(Merasa takut dan terkejut) Siapa disana? Keluarlah! tak perlu bersembunyi!“

Pangeran      : “(Keluar dari belakang pohon itu) Maaf, Nona, aku telah membuatmu takut dan terkejut.“

Pandan        : “Siapa kamu?“

Pangeran      : “(Mengulurkan tangan) aku pangeran Arya dari kerajaan Tamrin.“

Pandan        : “(Terkejut) Pangeran?“

Pangeran      : (Tersenyum) Iya aku pangeran, Nona sendiri, siapa ?“

Pandan        : “(Putri pun mengulurkan tangannya) Aku putri Pandan dari Kerajaan Pohaci.“

Pangeran      : “Sedang apa putri sendirian di hutan ini?“

Pandan        : “Aku hanya sedang berjalan-jalan saja dan memetik bunga-bunga indah ini.“

Pangeran      : “Benarkah ? Aku pun sedang berjalan-jalan disini.“

Pandan        : “(Melihatnya dan tersenyum sembari memegang bunga itu).“

Pangeran      : “Bolehkah aku menemani putri? (Menundukkan badan)

Pandan        : “Tentu saja, Pangeran, dengan senang hati (Tersenyum).”

Pangeran      : “Baiklah, Putri, apa kau hanya sendiri datang ke hutan ini ?”

[[Suara kicauan burung]]

 

Pandan        : “Iya, aku hanya sendiri datang ke hutan ini “.

Pangeran      : “Berani sekali kau, Putri! “

Pandan        : “Terima kasih, Pangeran (Tersenyum malu).

 

[[Gemuruh]]

 

Pandan        : “Sepertinya hari ini akan turun hujan, aku harus segera pulang.

Pangeran      : “Tunggu, Putri! (Mengulurkan tangan) Bolehkah aku mengantarmu pulang?“

Pandan        : “Aku sangat terburu-buru, Pangeran (Berjalan dan pergi meninggalkan pangeran).“

Pangeran      : “(Berteriak keras) Apakah besok kita bisa bertemu lagi di tempat ini?”

Pandan        : “(Menengok dan tersenyum).“

Baca Juga :  Kisah Kaliren; Alasan Kenapa Jangan Menyisakan Makanan

Pangeran      : “Asyik! (Kegirangan) “.

ADEGAN 15

Putri Pandan dan Pangeran Arya pulang ke istananya masing-masing. Pangeran yang pulang dengan wajah bahagia dan kegirangan terlihat oleh budenya.

Bude Lara     : “Kau sudah pulang, Pangeran?“

Pangeran      : “Iya, Bude(Tersenyum).“

Bude Lara     : “(Penasaran) Sepertinya kau sedang bahagia sekali, Pangeran?“

Pangeran      : “Iya bude, hari ini aku sangat bahagia sekali (Senyum senyum bahagia).“

Bude Lara     : “Apa yang membuatmu bahagia dan segirang ini pangeran?“

Pangeran      : “(Duduk) Aku bertemu seorang gadis cantik di hutan tadi, Bude. (Tersenyum).“

Bude Lara     : “ (Menghampirinya dan duduk disampingnya) Benarkah?“

Pangeran      : “Iya, Bude.“

Tiba-tiba sang Ratu datang tanpa sepengetahuan Pangeran dan langsung menghampirinya.

Ratu             : “Siapakah wanita itu?“

Pangeran      : “(Menengok ke arah ibunya) Ibu! kau membuatku terkejut.“

Ratu             : “(Duduk disamping pangeran) Mengapa kau berhenti, Anakku? Ceritakan saja!“

Pangeran      : “ (Tersenyum) Dia gadis yang sangat cantik, lugu dan pemalu.“

Ratu             : “Siapa nama gadis itu? Dan dimana ia tinggal anakku?“

Pangeran      : “Namanya Putri Pandan, Bu. Dia seorang putri dari Kerajaan Pohaci.“

Bude Lara     : “Kerajaan Pohaci?“

Pangeran      : “Iya, Bude. Apa kau mengetahui kerajaan itu?“

Bude Lara     : “Tentu saja (Tersenyum).“

Pangeran      : “Benarkah itu?“

Ratu             : “ (Memegang pundak pangeran) Tentu, Putraku. Kerajaan itu berada di seberang hutan.“

Pangeran      : “Oh! pantas saja aku bertemu dengannya di hutan (Tersenyum).”

Bude Lara     : “(Tertawa) Tapi kau senang, ‘kan ?“

Pangeran      : “ (Tersenyum) Iya, Bude, aku sangat senang sekali.“

Ratu             : “ Ibu ingin bertemu dengan gadis itu, Anakku.“

Pangeran      : “Tentu saja, Bu, besok aku ingin pergi ke hutan lagi.“

Ratu             : “Tapi untuk apa anakku kau pergi ke sana lagi?“

Pangeran      : “(Berdiri dan berjalan) Ibu aku akan menemui gadis itu lagi.”

Ratu             : “Tapi…”

Bude Lara     : “Sudahlah. Biarkan pangeran pergi untuk menemuinya lagi adikku.“

 

ADEGAN 16

Di sebuah markas penjahat, tepatnya di hutan, mereka sedang duduk di kursi tua. Perbincangan berlangsung cukup serius.

[[Burung gagak]]

 

Bos            : “(Duduk dan bersandar) Aku lelah sekali.“

AB 1           : “Biar aku pijat, Bos.“

AB 2           : “Mau kuambilkan minuman, Bos?“

Bos            : “Boleh.“

AB 1           : “Bos… sudah lama kita tidak mendapatkan mangsa.“

Bos            : “Kau benar,  sudah dua hari tidak ada pedagang yang melintasi hutan ini.“

AB 1           : “Apa perlu kita pindah markas saja, Bos?“

Lalu tiba-tiba AB 2 pun datang dengan membawa minumannya.

AB 2           : “Apa? Kita mau pindah markas? (Memberikan minumnya ke bos).

Bos            : “Tidak, kita tidak akan pindah markas.“

AB 1           : “Tapi bos, sudah dua hari ini kita tidak minum arak (Mengelus tenggorokan).

Bos            : “ Tenang… (menyeringai).“

AB 2           : “ Hah, kentang ? (polos) Bos ingin makan kentang?“

AB 1           : “(Melihat sinis ke arah AB 2) Kamu ini! (Menggeram) jeez…“

AB 2           : “Apa? Kenapa? Memangnya aku salah ?“

Baca Juga :  Sebuah Kisah; Senja dan sepenggal Sesal

AB 1           : “Kamu ini bodo apa bego, sih?“

AB 2           : “(Mengelak) Kamu ini gimana? Kita ‘kan sebelas-dua belas? (Menunjuk AB 1).

Bos            : “(Menatap heran kearah mereka).“

AB 1           : “Iya juga, yah? Kita ini sebelas-dua belas. Kalau kamu Bodo, maka aku yang Bego (Menunjuk dirinya sendiri) “.

AB 2           : “Tuh, ‘kan! Aku yang benar!“

Bos            : “Sudah-sudah! Otak kalian emang kayak pinang dibelah dua.“

AB 2           : “Bos, di sini ‘kan enggak ada buah pinang!“

AB 1           : “Iya bos, mana ada buah pinang di sini? Bos ini gimana, sih?“

AB 2           : “Bos ini bodo dan bego juga, ya?“

Bos            : “Enak saja kamu bilang saya bodo dan bego! (Melotot).“

AB 2           : “Ampun, Bos! tadi kami hanya sedang bercanda.“

Bos            : “Sudahlah! Kalian ini berisik sekali. Bikin kepalaku ini pusing. (Memegang kepalanya). Duh!“

AB 1           : “Aku pijat ya, Bos?”

AB 2           : “Kamu enggak pegel dari tadi pijat bos terus ? Mending dia kita kasih obat saja (Berbisik kepada AB 1).

AB 1           : “Kamu ini benar-benar bodo! Mana ada apotik di hutan ini?“

AB 2           : “Aku memang bodo, kenapa? kamu mengagumiku, yah? dari tadi memanggil-manggil namaku terus.”

Bos            : “Kalian ini dari tadi berisik sekali, apa harus ku sumbat mulut kalian (Mengepalkan tangannya dan mengarahkannya kepada mereka).“

AB 1           : “Tidak, Bos! tidak perlu, kami akan diam (Menunduk dengan nada pelan sembari memijat pundak bosnya)

AB 2           : “Kamu sih… (Menyenggol badan AB 1 yang sedang memijat)

Bos            : “Sudah-sudah, dari pada kalian terus-terusan beradu mulut…“

AB 2           : “(Memotong perkataan bosnya) Beradu mulut, Bos ? (Dengan wajah polos dan penuh rasa heran) Dari tadi kita hanya berbincang-bincang saja. Tidak beradu mulut, kok!“

Bos            : “Bodo… (Dengan nada kesal) Aku ini belum selasai bicara, kenapa kau langsung saja memotong pembicaraan ku?“

AB 2           : “ Oh… belum selesai ya, bos?“

Bos            : “(menampakkan wajah geram)

Sementara AB 1 hanya tertawa kecil.

AB 2           : “Ya sudahlah bos, silakan lanjutkan pembicaraannya yang tadi (Tersenyum).

Bos            : “ Tuh, ‘kan! tadi mau ngomong apa, ya? (Mengingat ingat apa yang ingin dikatakan dan bertanya kepada AB 1 namun mereka tidak mengingatnya) Aku bingung apa yang akan kukatakan tadi…“

AB 1           : “Mana aku tau, Bos. Aku ‘kan Bego!?“

Bos            : “Jeez… Punya anak buah kok begini semua?! (Menepuk-nepuk kepalanya sendiri).

AB 1           : “Tapi, Bos…“

Bos            : “(Memotong pembicaraan AB 1) Sudahlah! Sana kalian pergi, aku mau istirahat.“

AB 1           : “Bos mengusir kami ?“

Bos            : “Bukannya mengusir, hmm… argh! Sudahlah! kalian pergi ke luar, sana! Aku pusing berbicara lama-lama dengan kalian.“

AB 1           : “Ya sudah, Bos, kami keluar dulu (Berjalan keluar sembari menarik AB 2).“

Bos            : “Heran punya anak buah  bodo dan bego enggak ketulungan… tapi daripada memikirkan mereka, lebih baik aku tidur dan memikirkan misi selanjutnya (bicara sendiri).“

 

ADEGAN 17

Mentari pun telah muncul kembali menandakan datangnya sang pagi, untuk kedua kalinya putri Pandan meminta izin pergi ke hutan lagi. Tiba-tiba di dekat ruang singgahsana Raja…

Baca Juga :  ~Melepasmu~

Pandan      : “(Bersenandung)

[[lalala]]

Datanglah putri Sri, ia merasa heran kepada putri Pandan yang penampilan rapi dan dengan penuh rasa kegirangan itu.

Sri             : “Pandan, kamu mau kemana? (Dengan nada sinis).“

Pandan      : “Aku mau pergi ke hutan, Kak.“

Sri             : “Hutan ? Mau apa kamu pergi kesana ? (Bertanya heran).

Pandan      : “Aku hanya ingin memetik bunga-bunga yang kusukai, Kak. Soalnya bunga-bunga di hutan sana sangat cantik (Tersenyum). Kakak mau ikut?”

Sri             : “ Hah ikut ? Malas sekali aku harus pergi ke hutan denganmu (Dengan nada ketus). Di sana pasti banyak nyamuk, bisa bisa nanti kulitku yang mulus ini jadi rusak lagi (Mengelus-ngelus tangannya yang mulus).”

Pandan      : “Baiklah kalau begitu, aku pergi duluan ya, Kak. (bersenandung meninggalkan putri Sri) “.

Sri             : “(Menatap dengan penuh rasa heran) Ada apa dengan Pandan? Aneh sekali…“

 

ADEGAN 18

Putri Pandan menghampiri sang Raja yang sedang duduk di kursi singgahsananya.

Pandan      : “(Menundukan kepalanya dengan rasa hormat)

Raja           : “ Ada apa, Putriku ?“

Pandan      : “Ayah, hari ini aku ingin meminta izin untuk pergi ke hutan lagi (Tersenyum).“

Raja           : “Tapi, Putri, hendak apa kau pergi kesana lagi?“

Pandan      : “Ayah… aku ingin memetik bunga. Ayah tahu, bunga-bunga di sana sangatlah cantik (Dengan nada manja dan cemberut).

Raja           : “Bukankah kemarin kau telah pergi kesana?“

Pandan      : “Iya, Ayah, tapi aku ingin pergi kesana lagi. Boleh,’kan, Yah ? (Merayu sang Raja ).“

Raja           : “Aku selalu tidak bisa menolak permintaanmu, Putriku (Mengelus kepala sang Putri dan tersenyum).“

Pandan      : “Jadi ayah mengizinkanku ? (Dengan nada gembira).“

Raja           : “(Menganggukkan kepalanya) Tapi sekarang kamu harus ditemani oleh Dayang Wati, Putriku.“

Pandan      : “Tidak perlu, Ayah. Aku ‘kan sudah dewasa, ajdi bisa jaga diri baik-baik”.

Raja           : “Tapi putri….. “.

Pandan      : (Memotong pembicaraan dan memegang kedua tangan Raja) Ayah, sekarang aku bukan anak kecil lagi. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku.“

Tiba-tiba Ibunda Ratu pun datang dan memotong pembicaraan mereka.

Ratu           : “Kanda, sudahlah biarkan putrimu pergi (Memegang pundak suaminya).“

Raja           : “Tapi, Istriku… (Mencemaskan putri kecilnya).“

Ratu           : “Kanda, Pandan bukanlah putri kecilmu lagi. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Dia bisa menjaga dirinya baik-baik.“

Pandan      : “Ibu, bolehkah aku pergi sekarang?“

Ratu           : “Tentu saja, Putriku. Hati-hati! (Tersenyum).“

Pandan      : “Baiklah kalau begitu. Ayah, ibu, aku pergi dulu, ya. (Pergi meninggalkan raja dan ratu dengan tersenyum kegirangan).“

Raja&Ratu : “(Mengangguk dan tersenyum).“

Raja           : “ Hati-hati, Putriku!“

Pandan      : “Iya, Ayah…”

next-page-rd-300x100-1

You May Also Like