Nikmatnya Memberi Label Negatif dan Merasa Diri Sendiri Paling Baik

2
SHARE
merasa sok suci, merasa sok pintar, merasa sok hebat, merasa sok benar, ciber bullying, ngomong kasar di media sosial, sok merasa dibutuhkan
Image via: laibuta.com

“Media sosial menipiskan empati kita dengan lawan bicara. Maka kita cenderung berbicara semaunya sendiri,” ujar Agus Sudibyo, pengamat medsos, via VICE Indonesia.

Tidak heran, ya, kalau banyak akun yang terkesan ringan memberi komentar kasar. Kita juga seakan sudah lumrah membaca komentar-komentar negatif.

Misalnya ‘g*bl*k’, ‘hahaha burik lo!’, ‘*nj*ng’, ‘b*ngsa*t’, ‘d*ngu’, ‘jangan damai, ayo baku hantam!’, ‘heh daki tapir!‘,‘dasar kafir!’, ‘mati aja kamu!’, ‘selamat datang di neraka!’, ‘kami sealam semesta gak peduli padamu’, dst.

Komentar tersebut bisa hadir di akun siapa saja. Baik itu akun seleb,  influencer, media berita, akun yang sedang ‘perang’, bahkan akun asing sekali pun. Apalagi yang memiliki perbedaan politik, keyakinan, pendapat, dll.

Memberi label negatif, tidak lantas membuat kita auto-positif

Merasa tidak sependapat, merasa marah, merasa jijik, dan merasa benci memang wajar dirasakan. Namun semua itu tidak menjadi alasan valid untuk menjatuhkan seseorang. Lagipula, menjatuhkan seseorang juga tidak serta-merta mengangkat derajat kita.

Jika orang lain pilih A dan kita pilih B, bukan berarti orang lain berhak diejek. Bukan berarti juga kita lebih tinggi atau lebih suci sehingga berhak untuk mengejek.

Ngata-ngatain orang lain ‘jelek’, tidak membuat kamu ‘auto cakep’. Ngata-ngatain orang lain ‘dungu’, tidak membuat kamu ‘auto jenius’. Ngata-ngatain orang lain ‘sesat’, tidak membuat kamu ‘auto lurus’.

Apakah kita begitu lemah, sehingga tidak bisa fokus mendukung pilihan sendiri dan selalu tergoda untuk mencaci-maki pilihan orang lain?

Semua komentar kasar, kotor, dan negatif ke luar begitu saja – seakan-akan tidak ada pengaruhnya bagi orang lain. Padahal akun media sosial juga dikendalikan oleh seorang manusia biasa. Tentu mereka juga masih memiliki rasa.

Baca Juga :  18 Makna Kebahagiaan Dalam Gambar atau Ilustrasi Menggemaskan

Tidak heran kalau kasus stres berat karena depresi, cyber bullying, atau tekanan lain akibat media sosial itu memang nyata adanya.

Pernah melakukannya juga? Atau mungkin sempat tergoda?

Sumpah serapah dan mengejek kejelekan atau kelemahan orang lain tampaknya begitu mudah. Sensasinya mungkin nikmat juga. Sehingga banyak akun, khususnya yang anonim, yang ketagihan melakukannya.

Memang mudah, ya. Kalau yang susah itu namanya introspeksi diri atau ngaca diri.

Demikian juga dengan tingkah kita yang merasa paling baik dan benar. Sedangkan orang lain, yang tidak sepaham, dicap sebagai pihak yang paling tersesat. Siapalah kita ini? Apa kabar aib kita?

Memberi label negatif tidak akan membuat kamu jadi lebih positif. Hati-hati dengan ilusi bahwa kamu lebih benar dan lebih baik.

Mungkin lebih aman jika kita memposisikan diri menjadi orang bodoh, orang awam, atau orang kotor saja. Agar mental kita siap menerima berbagai pandangan baru. Agar lebih tegar untuk terus belajar. Nikmatnya Memberi Label Negatif dan Merasa Diri Sendiri Paling Baik. #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. Tamparan banget, diri sendiri sering begitu meskipun belom sampe bener2 dilontarin umpatannya. Bener, pura pura nggak tau bisa jadi lebih baik.

    • Sama, Mbak. Saya pun pernah merasa demikian, walau tidak benar2 diungkapkan. Makanya sebisa mungkin menahan diri, tidak mengomentari semua hal, apalagi yang tidak saya kuasai. Hehehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven + 12 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.