Orang Tua Pun Tidak Tahu Apa yang Terbaik untuk Anaknya

6
SHARE
berbeda pendapat dengan orang tua, berbeda keinginan dengan orang tua, apakah orang tua selalu benar, cara menyelesaikan masalah dengan tua, orang tua selamanya benar, contoh konflik dengan orang tua sendiri
Image via: Kanal Youtube “ACTUALLY HAPPENED”

Kadang apa yang orang tua pikir terbaik untuk anaknya, justru tidak menerbitkan rasa bahagia untuk sang anak.

Kadang orang tua dan anak memiliki standard berbeda tentang berbagai hal.

Ada orang tua yang menganggap kalau PNS adalah profesi terbaik dan paling aman, misalnya. Tetapi anaknya tidak berpikir demikian. Sang anak justru ingin menjadi entrepreneur, misalnya.

Kemudian ada orang tua yang menginginkan anaknya menikah dengan Si A karena deretan alasan tertentu. Sayangnya, sang anak sendiri memiliki persepsi lain terkait calon pasangannya.

Sehingga terbayang, menuruti orang tua tetapi mengingkari hati, tentu akan menimbulkan konflik batin tersendiri.

Jangan salah paham dulu. Saya tidak memprovokasi siapa pun untuk antipati terhadap masukan orang tua, apalagi sampai melawan mereka.

Justru setiap anak wajib mencurahkan kasih sayang pada orang tua. Anak juga harus mempersembahkan yang terbaik. Entah itu cara bicara terbaik, adab terbaik, pemberian terbaik, dll. Harus melebihi pada kekasih, pada idola, bahkan pada sosok yang dihormati.

Lagipula, mayoritas anak yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya akan berharap kalau mereka bahagia dan bangga.

Menyenangkan sekali kalau ada anak yang keinginannya senada dengan apa yang diarahkan orang tua. Anak bahagia, orang tua lega.

Tak akan ada perseteruan jika orang tua melarang anaknya pacaran dan sang anak setuju dengan larangan itu. Kedua pihak ada di kapal yang sama.

Hanya saja, beberapa perbedaan kadang tidak terhindarkan. Mulai dari berbedanya pilihan sekolah, jurusan kuliah, opsi karier, gaya hidup, calon suami/istri, dll.

Orang tua punya pengalaman dan seleranya sendiri. Anak pun demikian. Pergaulan, pemikiran, pengetahuan, dll, sudah membentuk pilihan dan keputusannya.

Lalu bagaimana?

Baca Juga :  OMG! Waktunya Sidang Skripsi!
anak dan orang tua, contoh konflik anak dengan orang tua, penyebab konflik anak dengan orang tua, dampak konflik anak dengan orang tua, konflik antara orang tua dengan anak
Image via: ypad4change.org

Tidak ada salahnya untuk memiliki pilihan dan keputusan yang berbeda dengan orang tua. Mereka memang sosok terbaik yang dipilihkan Tuhan. Namun mereka bukan Tuhan. Kadang mereka pun bisa salah dan keliru, sehingga apa yang dipilihkan untuk anaknya belum tentu yang terbaik.

Namun camkan, kalau pilihan orang tua berbeda bukan berarti mereka ingin menjerumuskan atau mengubur kebahagiaan anak.

Tetapi anak juga bisa mempertimbangkan kebahagiaan untuk diri sendiri. Selama pilihan dan keputusannya tidak menyalahi norma dan agama, kenapa tidak untuk diperjuangkan?

Terkadang masalah terbesarnya terletak pada komunikasi. Kalau disampaikan dengan beringas, tentu kesannya akan buruk di mata semuanya.

Namun ketika disampaikan secara lembut, hati orang tua mana yang tidak luluh?

Orang tua perlu tahu kenapa pilihan anak bisa berlainan. Apa alasan kuatnya, kenapa tidak memilih yang lain, bagaimana ke depannya, dll.

Sebab pada akhirnya, kebahagiaan anak akan jadi kebahagiaan orang tua juga.

Rida Tuhan ada pada rida orang tua juga. Alangkah tenang hidup ini jika bisa mendapatkan restu Dia dan orang tua.

Kalau bisa, anak juga harus memberikan pembuktian. Bahwa pilihan dan keputusannya memang yang terbaik. Sehingga keraguan orang tua, yang mungkin tidak disampaikan langsung, akan perlahan gugur.

Mereka juga jadi lega dan benar-benar ikut bahagia dengan pilihan atau keputusan anaknya. Orang Tua Pun Tidak Tahu Apa yang Terbaik untuk Anaknya. #RD

SHARE

6 COMMENTS

    • Betul, Bang. Lebih baiknya “adu argumen” dengan pendekatan yang apik. Biar lebih tenang kalau udah dapet rida keduanya (Allah & orang tua). ^_^

  1. Pembuktian adalah kunci, sy pernah mengalaminya. Sy tdk sepaham soal profesi dg orang tua. Sy jalani profesi yg diinginkan orang tua sekaligus sy menjalani profesi yg sy sukai. Lama-lama orang tua sy tau bahwa profesi yg sy senangi ternyata bisa menjanjikan juga. Akhirnya beliau mengijinkan sy utk melepas profesi yg beliau pilihkan utk sy. Semua bahagia.

    Sy beruntung.

    • Wah itu yang saya maksud, Mas Fakhruddin. Pembuktian bisa menjadi “final” dari perbedaan pilihan antara orang tua dan anak. Tentu beruntung sekali kalau bisa menepis argumen dengan bukti langsung, enggak dengan opini subjektif saja.

      Terima kasih banyak sudah berbagi di sini. ^_^

  2. dalam segala pilihan alu lebih mementingkan apa pilihan anak tak terlau memaksakan, kecualli saat anak2 masih kecil dan belum bisa berpikir dengan baik

    • Inilah yang selalu saya tunggu dari Mbak Hastira. Mbak bisa menambal tulisan saya yang banyak celahnya. Betul, Mbak, orang tua sebaiknya tidak memaksakan. Tetapi anak pun harus legowo menerima masukan orang tua, apalagi kalau sang anak masih kecil, labil, atau belum berpikir jernih. ^_^

Leave a Reply to Fakhruddin Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.