Resensi Buku Biografi “Dokter di Medan Lara”: Menjadi Garda Terdepan Dalam Misi Kemanusiaan

2
SHARE
Dokumentasi Pribadi

Judul: Dokter di Medan Lara

Penulis: Sili Suli dan Hurri Hasan

Penerbit: Arti Bumi Intaran

Tebal Buku: xvi + 354 halaman; 22×30 cm

Cetakan: I, Maret 2020

ISBN: 978-602-5963-78-3

 

Jujur, awalnya saya menghakimi kalau buku biografi “Dokter di Medan Lara” ini tidak menantang dan tidak menarik. Betapa tidak, buku ini mengisahkan sosok Prof. Dr. dr. Idrus Paturusi, Sp.B, S.OT. Beliau merupakan keturunan “orang berada”, yang notabene kehidupannya mudah dan lancar saja sejak dari kecil. Bagaimana pun, beliau pasti memiliki privilage bangsawan yang istimewa.

 

Penghakiman saya hanya bertahan di awal-awal halaman. Selanjutnya, saya jadi paham kenapa buku biografi dr. Idrus Paturusi layak tercipta dan harus disebarluaskan. Kisahnya ternyata seru dan terjal. Tidak pernah saya bayangkan, beliau justeru memilih bahkan terkesan “menikmati” perannya sebagai pejuang kemanusiaan. Kiprah tersebut tentu sangat riskan, bahkan hampir merenggut nyawanya sendiri.

 

Pak Idrus muda mengalami berbagai kejadian menarik. Beliau hampir berhadapan dengan maut ketika ada perbaikan tiang listrik, harus menimba ilmu di 6 sekolah dasar berbeda, menjadi jawara berkelahi dan kepalanya dihantam kayu bangko, dst.

 

Sebenarnya profesi sebagai dokter bukanlah prioritas Pak Idrus. Beliau ingin menjadi insinyur dan kuliah di ITB. Namun sang bunda,  St. Hasnah Karaeng Caya, keukeuh memintanya untuk mengikuti tes masuk ke Fakultas Kedokteran UNHAS. Takdir pun meremukkan hati Pak Idrus karena beliau gagal masuk ITB. Namun beliau berhasil membuat ibunya tersenyum, sebab bisa lulus masuk ke Fakultas Kedokteran UNHAS.

 

Keberhasilan Pak Idrus diterima di Fakultas Kedokteran UNHAS bukanlah akhir dari segalanya. Justru peran itu menjadi titik awal kontribusi besarnya bagi misi kemanusiaan. Beliau tidak hanya tekun kuliah, melainkan juga menjadi aktivis kampus yang disegani.

Baca Juga :  Puisi; Cameo Di Mimpi
Dokumentasi pribadi

Peristiwa gempa tektonik disertai tsunami melanda Pulau Flores pada 12 Desember 1992 (hal. 51). Saat itulah, Pak Idrus tergerak untuk turun tangan dan mengulurkan pertolongan. Beliau memimpin Brigade Siaga Bencana Indonesia Timur (BSBIT) untuk berangkat ke Maumere.

 

Selanjutnya, Pak Idrus tidak kapok untuk menjadi garda terdepan dalam misi kemanusiaan. Beliau bahkan seperti “ketagihan” untuk menjadi yang paling sigap memberikan bantuan sesuai kapasitasnya sebagai seorang dokter. Padahal sepak terjang tersebut tidak memberi keuntungan materil bagi beliau. Sebaliknya, semua itu justru menyeret beliau pada posisi yang serba berbahaya. Meski demikian, beliau tetap hadir ketika terjadi gempa tektonik di Toli-Toli Sulawesi Tengah (hal. 65), konflik di Ambon (hal. 69), bentrok di Timor-Timur (hal. 85), pertikaian di Ternate (hal. 93), kerusuhan di perbatasan Pakistan-Afghanistan (hal. 109), tsunami dahsyat di Aceh (hal. 151), bencana trisula di Palu (hal.  297), dsb.

 

Di sisi lain, perjalanan karier struktural dan profesi Pak Idrus juga berjalan dengan baik. Di samping tantangan yang dihadapi, beliau berhasil menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Kedokteran UNHAS, Kepala Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dekan Fakultas Kedokteran UNHAS, Rektor UNHAS, komisaris Utama PT. Semen Tonasa, dll.

 

Beliau juga aktif dalam berbagai organisasi, bahkan menempati posisi vital. Entah itu menjadi Ketua Cabang Ikatan Dokter  (IDI) Indonesia Makassar, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Bedah Orthopedi Indonesia (PABOI), Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia, Presiden Asosiasi Perguruan Tinggi Asia Tenggara, dll.

Dokumentasi pribadi

Kiprah Pak Idrus memang patut diacungi jempol, atau diberi apresiasi tinggi. Tidak heran kalau banyak media yang mengangkat ceritanya ketika berkontribusi dalam misi kemanusiaan. Kepedulian dan dedikasinya memang sudah terasah dengan baik.

Baca Juga :  Puisi-puisi Pendek Tentang Perempuan yang Menyakiti dan Disakiti

 

Buku biografi ini dikemas secara eksklusif, disertai foto atau dokumentasi, serta beberapa kutipan menarik. Memang terdapat kesalahan seperti typo atau salah mengetik seperti pada kata expirience (hal. 13) atau kata pergurun tinggi (hal. 252). Namun kekeliruan minor itu tidak lantas mengubah isi, nilai, atau bobot buku ini. #RD

SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.