Resensi Novel “Orang-Orang Biasa” Andrea Hirata: Penuh Hal-Hal yang Tidak Biasa

4
SHARE
orang orang biasa andrea hirata, orang orang biasa, resensi buku orang orang biasa andrea hirata, review buku orang orang biasa andrea hirata, buku orang orang biasa andrea hirata, buku terbaru andrea hirata
dokumentasi pribadi

Judul: Orang-Orang Biasa

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka
Genre: pendidikan, kriminal, kehidupan
Tebal Buku: xii + 300 halaman; 20,5 cm.
Cetakan: Pertama, Maret 2019
ISBN: 978-602-291-524-9

Saya tidak berpikir dua kali, bahkan sepertinya tidak berpikir sama-sekali, ketika ikutan pre-order Orang-Orang Biasa ini. Padahal pengeluaran saya sedang banyak, di tengah pendapatan yang tidak meluap-luap amat. Lebih lagi, saya pun tengah mengalokasikan dana untuk membeli buku lainnya.

Tapi syukurlah, saya tidak mencicipi rasa pahit bernama penyesalan.

Alasan kuat kenapa saya “terhipnotis secara sadar” untuk membeli buku ini; Pakcik Andrea Hirata, Bentang Pustaka, dan Orang-Orang Biasa ini sendiri. Tak perlulah saya menjabarkan betapa hebatnya Andrea Hirata. Indonesia patut bangga memilikinya. Apalagi, Laskar Pelangi karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa asing dan beredar di lebih dari 130 negara. Tak perlu juga saya mendeskripsikan reputasi Bentang Pustaka, yang juga menerbitkan karya-karya Dee Lestari.

Saya fokus pada Orang-Orang Biasa saja, ya. Selanjutnya saya singkat OOB. Novel ini menjadi karya ke-10 Andrea Hirata bersama Bentang Pustaka. Menurut salah-satu endorsernya, Jill Simmons (New York), OOB ini ditakdirkan untuk menjadi buku bestseller tingkat internasional ke dua  – setelah Laskar Pelangi.

“Orang-Orang Biasa” yang Tidak Biasa Saja

Saya langsung bocorkan saja. Bahwa judul novel ini sudah mengelabui. Faktanya, mayoritas hal dalam novel ini serba tidak lazim dan tidak biasa. Luar biasa!

Novel ini lahir karena penulis kecewa berat, sebab dia gagal memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar. Anak tersebut sudah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Bengkulu, tapi tidak bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya lantaran tidak mampu membayar uang muka.

Baca Juga :  Tidak Menulis Tiap Hari itu Tidak Apa-Apa

Kisah ini diramu sedemikian rupa, sehingga memproduksi aneka topik. Ya persahabatan, pendidikan, bullying, kriminal, keluarga, sentuhan asmara, dan kehidupan pada umumnya – yang tidak biasa. Masing-masing mengutus pesan-pesan yang berkesan.

Semuanya diceritakan dengan gaya bahasa Pakcik yang istimewa, jenius dan sangat jenaka. Dari halaman-halaman awal saja, saya sudah lepas tertawa!

Karakter-Karakter yang Tidak Biasa

andrea hirata orang orang biasa, buku terbaru andrea hirata, andrea hirata 2019, resensi buku orang orang biasa andrea hirata, review buku orang orang biasa andrea hirata, andrea hirata bentang pustaka
dokumentasi pribadi

Saya tertegun dengan narasi, ‘… jika sepuluh, mungkin lebih cocok disebut gerombolan. Lagi pula, sulit sepuluh sekawan dibuat cerita, pengarang yang tak kuat mentalnya akan mundur  sebab bukan main sulitnya mengingat nama sepuluh orang itu’ (hal.16).

Sampai OOB tamat pada halaman 262, saya bisa mengingat ke-10 anggota sekawan gerombolan itu. Bahkan saya juga ingat karakter-karakter lainnya. Ada pun yang 10 tokoh itu adalah Dinah, Debut , Handai, Salud, Sobri, Tohirin, Honorun, Rusip, Nihe, Junilah.

Tidak, saya tidak mengagumi diri saya sendiri karena bisa mengingat 10 karakter utama – meski saya ini pelupa.

Saya hanya tak habis pikir, kok penulis bisa membuat saya ingat? Kok karakter-karakter itu memiliki karakter-karakternya sendiri yang khas? Kok mereka pecundang, bodoh, dan suka saling tuduh – tapi pada akhirnya menghadirkan twist yang bikin dada saya meletup-letup?

Itu berarti, Pakcik Andrea Hirata punya mental kuat dan tidak mundur menamatkan cerita. Salut!

Sinopsis

Ceritanya dimulai dengan deskripsi Kota Belantik yang naif, seakan para penduduknya telah lupa cara berbuat jahat (hal.5). Sampai-sampai seorang inspektur dan sersannya dilanda paradoks tanggung jawab. Mereka merasa ‘tidak berguna’ dan ‘berpengaruh’, sebab keadaan kota memang aman dan tenteram.

Selanjutnya kisah tentang ke-10 karakter yang sudah saya sebutkan. Mereka adalah teman satu sekolah yang menghuni bangku-bangku belakang. Mereka terkumpul secara alamiah berdasarkan kecenderungan bodoh, aneh, dan gagal … (hal 7).

Baca Juga :  5 Alasan Kenapa Kopi dan Penulis Bisa Awet Menjalani Hubungan Baik

Ada yang suka berandai-andai, ada yang lamban berpikir, ada yang langganan tidak naik kelas, ada yang suka berdandan dan tidak peduli pelajaran sekolah, ada yang idealis tapi morat-marit, dan ada juga yang jadi korban bullying. Para pembully itu adalah trio Bastardin, Jamin, dan Tarib. Ada juga duo Boron dan Bandar.

Mereka tumbuh. Ada yang menikah, ada yang punya keturunan, ada yang bekerja, ada yang membuka usaha, dan ada juga yang menganggur sambil terus berandai-andai. Namun semuanya sama-sama hidup dalam kemiskinan, kecuali para pembully yang hidupnya semakin sentosa.

Kisah yang paling menjadi sorotan yaitu kehidupan Dinah. Dia menjadi janda dengan 4 anak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, dia bekerja sebagai penjual mainan anak-anak di kaki lima.

Awalnya anak-anak Dinah seakan tidak berani punya cita-cita, sebab untuk belajar saja sudah kesulitan. Anak sulungnya, Aini, kerap memiliki nilai paling merosot. Bagi Dinah, Aini seperti jelmaan dirinya semasa sekolah. Tetapi hal itu berubah ketika ayah Aini (suami Dinah) sakit dan meninggal.

Singkat cerita, perubahan ekstrem pada Aini membuatnya lulus dalam tes masuk ke Fakultas Kedokteran di sebuah universitas ternama. Namun uang untuk pendaftarannya sangat besar, yakni 80 juta rupiah. Dinah sudah mencoba meminjam uang ke koperasi dan bank, tapi mereka tidak mengabulkan. Dinah juga meminta keringanan. Namun keringanan tersebut hanya berupa potongan biaya sebesar 1 juta rupiah saja. Tentu masih jauh!

Nah … kisah hebat, heroik, menggetarkan, dan menegangkan terjadi setelah Dinah mengadukan masalah uang pendaftaran kuliah tersebut pada Debut. Lalu Debut mengumpulkan semua kawan-kawan pecundangnya. Orang-orang biasa itu kemudian merencanakan sesuatu yang luar biasa, yang akan menjadi trending topic di Belantik!

Baca Juga :  Tugas Menulis Cerpen Dengan Tema Religius atau Agamis

Oh! ada pun sosok manusia yang mengenakan topeng monyet di sampul buku akan melengkapi kisah orang-orang biasa itu. Percayalah, saya gemas ingin mengungkapkan versi lengkapnya, mumpung segar dalam ingatan, tapi saya tahu nantinya bisa mengurangi efek asyik ketika membaca.

Kekurangan Orang-Orang Biasa

Saya memberanikan diri untuk menulis ‘kekurangan’ OOB, agar resensi ini tampak objektif. Celahnya memang sedikit. Malah saya seperti terbius, tahu-tahu sudah membaca kata ‘tamat’.

Namun sempat tebersit rasa kurang puas ketika membaca narasi, ‘para perampok bank itu memenuhi janji mereka untuk meminjam dari mana saja dan menjual apa saja untuk uang muka kuliah Aini. Biaya selanjutnya akan mereka pikirkan kemudian’ (hal. 254). Saya berharap ada kegamblangan agar tidak terkesan terburu-buru mengakhiri cerita. Toh, saya tidak akan kerepotan untuk membacanya. He he he

Kemudian saya penasaran dari mana Debut memeroleh topeng-topeng monyetnya, sebab dia morat-marit secara ekonomi. Apa sayanya saja yang memang tidak ngeh di bagian mana penjelasannya?

Saya juga sempat deg-degan ketika Kumendan mencatat kecurigaan adanya kejahatan siber, sebab mencurigai Cyntya dari Yayasan Pawai Merdeka. Sayang sekali, tidak ada tindak lanjutnya.

Tapi, well, apalah kekurangan yang saya cari-cari itu dibanding dengan OOB yang té-o-pé.

Inti yang paling inti, saya berani merekomendasikan buku ini. Semoga difilmkan! Resensi Novel “Orang-Orang Biasa” Andrea Hirata: Penuh Ketidakbiasaan! #RD

SHARE

4 COMMENTS

  1. Mantap Mbak resensinya. pengen buat juga resensi buku OOB soalnya keren banget bukunya, saya sampai baca dua kali. hehehe. oh ia Mbak, mungkin penjelasan dari mana uang Debut buat beli topeng monyet yang jumlahnya 1000 itu adalah dari hasil gadai motornya Honorun. kan diawal awal cerita mereka bingung biaya buat nyewa mobil dari mana, nah si Honorun ngusulin buat jual motornya biar dipake buat modal. gitu kali mbak penjelasannya hehehe.

    • Ayo buat, Kak! Mumpung masih anget. Apalagi udah khatam 2 kali. Hehe

      Oh iya, mungkin saya enggak “ngeh” soal itu. Makanya jujur brutal saja di sini. Hehe … terima kasih, ya, udah bantu menjelaskan. :))

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.