Resensi Novel “Surya Mentari dan Rembulan”: Cinta Segitiga dan Petualangan Pemuda Tana Toraja

2
SHARE
resensi novel surya mentari rembulan, review novel surya mentari rembulan, surya mentari rembulan sili suli, novel tana toraja, novel cinta segitiga
Dokumentasi Pribadi

Judul: Surya Mentari dan Rembulan

Penulis: Sili Suli

Penerbit: Arti Bumi Intaran

Tebal Buku: xxviii + 469 halaman; 13,5×21 cm

Cetakan: Pertama, April 2019

Cetakan: Kedua, September 2019

ISBN: 978-602-5963-39-1

 

Saya sempat nge-judge a book by its cover. Begitu melihat sampul novel Surya Mentari dan Rembulan, saya berpikir karya ini hanya akan mengisahkan cinta segitiga yang klasik. Di mana ada seorang laki-laki yang dilema memilih dua perempuan favoritnya.

Namun penghakiman saya merasa malu sendiri ketika membaca halaman awal. Betapa tidak, saya langsung disuguhi latar waktu dan tempat yang menarik. Novel ini menceritakan kisah yang diawali pada 13 Oktober 1884 di kaki Gunung Napo, Tana Toraja. Saya akui di poin ini memang subjektif, ya, karena kebetulan saya sangat tertarik dengan Tana Toraja. Jadi senang rasanya ketika penulis, Mas Sili Suli, bisa mengangkat salah-satu daerah penghasil kopi enak tersebut.

Lebih lagi, novel ini mendeskripsikan banyak hal tentang Tana Toraja. Termasuk istilah-istilah yang kerap dipakai di sana. Misalnya aluk todolo berarti agama nenek moyang orang Toraja (hal. 3), rambu solo berarti acara adat kematian orang Toraja (hal. 6), ma’badong berarti tarian dan senandungduka yang hanya ditampilkan dalam acara Rambu Solo’ (hal. 29), pammarasan lendong berarti rawon belut (hal . 81), nasi pa’kareng alias nasi dan daging kerbau yang sudah digarami, diasapi, serta dikeringkan jadi dendeng (hal. 99), termasuk aneka jenis kerbau. Ada kerbau tedong sokko atau yang kedua tanduknya mengarah ke bawah, tedong tarangga atau yang kedua tanduknya mengarah ke atas, tedong pudu atau yang hitam besar, dst. (hal. 23).

Sekilas Sinopsis Tentang Cerita “Surya Mentari dan Rembulan”

Baca Juga :  30 Langkah Jadi Seorang Penulis untuk Pemula (Bagian 2)

Surya merupakan pemuda penggembala kerbau yang hidup di Kampung Waka’. Dia menjalian hubungan spesial dengan Mentari, putri seorang tominaa atau pendeta aluk todolo atau semacam pimpinan kampung bernama Ne’ Ari. Mentari memiliki adik laki-laki satu-satunya bernama Mataallo, yang kelak akan meneruskan peranan sang ayah.

Konflik Ne’Ari dengan seorang tengkulak kopi licik, Tangke Bunna’, mengantarkan masalah cukup pelik. Sekelompok orang menyerang Ne’ Ari dan Mataallo. Ne’Ari sempat melakukan perlawanan dan menandai para penyerang, yakni dengan mencukur sebelah alis mereka. Namun sayangnya, dia tidak bisa mencegah semuanya. Sehingga Mataallo pun berhasil diculik.

Penculikan Mataallo menjadi isu panas di Kampung Waka’. Sehingga Ne’ Bua sampai membentuk tim khusus bernama Elang Napo. Ketuanya Surya. Para anggotanya yaitu Salla, Yosua, Sartje, dan Botting.

Rupanya misi mereka jauh lebih rumit dari perkiraan. Sampai-sampai mereka harus menempuh perjalanan ke Parepare, ke Jawa, lalu “mengorbankan” Surya ke Nepal. Bahkan petualangan Surya dan para juragan Jawa ke Nepal itu dijabarkan dengan detail.

Kemudian di sela-sela petualangan itu, Surya berkenalan dan akrab dengan perempuan muda cantik bernama Jeng Endah alias Rembulan. Dari sini, kita bisa memahami konflik apa yang sebenarnya menjerat Surya, Mentari, dan Rembulan.

Novel Kaya, yang Tidak Hanya Mengandalkan Kisah Cinta Segitiga

resensi novel surya mentari rembulan, contoh resensi novel, contoh reviwe novel, review novel surya mentari rembulan, surya mentari rembulan sili suli, novel tana toraja, novel cinta segitiga
Dokumentasi Pribadi

Ketika membaca di halaman awal, mungkin saya saja yang memang kurang ‘ngeh’ dengan ide ceritanya. Saya sempat menguap beberapa kali. Tetapi semakin meneruskan membaca, saya justru semakin “terjerumus” ke dalam suasana cerita. Langsung terbayang sendiri bagaimana suasana Tana Toraja, tanah Jawa zaman dulu, Djogja, Batavia, sampai ke Sagarmatha. Sehingga saya bisa menamatkannya dari 24 Januari sampai 28 Januari 2020.

Baca Juga :  Ngeblog itu Ngebuang-buang waktu

Oh ya, kedua novel ini sendiri tiba di rumah saya pada 16 November 2019. Namun waktu itu saya hendak menikah, sehingga suasana sedang cukup hectic. Setelah menikah pun tidak langsung memiliki waktu membaca yang leluasa. Sebab saya dan suami harus berkutat dengan proses pindah domisili. Semoga Mas Sili Suli selaku penulis bisa memaklumi.

Jujur saja, isi novel ini di luar ekspektasi. Saya mengira penyajiannya akan penuh dengan diksi atau “bahasa melangit”. Ternyata tidak juga. Bahkan bisa dibilang, novel ini tersaji dengan bahasa yang mengalir dan sederhana.

Demikian juga dengan dialog-dialognya, yang cenderung kekinian – walau latar waktunya zaman lampau. Hal ini bisa jadi kritik, sebab karya penulis tidak beradaptasi dengan gaya bahasa era dulu. Namun hal ini juga bisa jadi poin plus, sebab penulis ingin menyesuaikan isi karya dengan gaya berbahasa yang modern.

Deskripsi tempat dalam novel ini pun begitu keren. Sehingga pembaca cukup mudah “memasuki dunia dalam novel”. Awalnya saya mengira penulis tidak akan menjelaskan perjalanan dari Pelabuhan Sunda Kelapa ke Nepal dengan rinci. Ternyata penulis malah menjabarkannya dengan apik, termasuk tentang bagaimana rombongan bisa menjangkau spot satu ke  spot lainnya.Entah itu dengan jalan kaki, menyewa kuda, menaiki kapal, dll. Lalu di tempat transit juga tersaji cerita demi cerita penunjang.

Tema yang diangkat juga tidak sekadar cerita cinta. Melainkan juga ekonomi, kebudayaan, isu sosial, persahabatan, keluarga, petualangan, alam, kemanusiaan, bahkan kuliner. Paket combo ini tentu menjadi keunggulan tersendiri bagi novel Surya Mentari dan Rembulan.

Novel yang Tidak Sempurna

Saya begitu awam, sehingga hanya bisa menelan bulat-bulat semua data yang tersaji di dalam novel. Tidak bisa menentukan apakah informasi yang deras di dalamnya itu sahih semua. Tetapi saya sangat mengapresiasi penulis yang pasti berusaha keras agar mendapat data yang kaya. Dia juga menyebutkan berbagai referensi buku untuk  menyusun karyanya.

Baca Juga :  7 Alasan Kenapa Menulis itu Hobi yang Aneh Tapi Harus Dipertahankan

Berbagai typo dan kesalahan penulisan tanda baca masih ditemukan. Contohnya ‘menggerikan’ (hal. 5) dan ‘setuju !’ (hal. 71). Demikian juga dengan percetakannya, yang awalnya sedikit mengganggu, seperti yang terdapat pada hal. 461.

Tentu saja tidak ada yang sempurna, tetapi saya harap jika novel ini kembali dicetak, berbagai kekeliruan isi bisa sigap ditangani. Demikian juga jika novel ini hendak dilanjutkan, sebab ending-nya berpotensi mengundang kisah baru. Maka alangkah lebih baik jika isu konten diberi perhatian besar.

Terima kasih ya, Mas Sili Suli, sudah membuat karya novel ini. Salam hormat dan kagum!

Bagi yang tertarik membacanya, kamu bisa menemukan novel Surya Mentari dan Rembulan di Tokopedia. Kalau tidak, kamu bisa kontak penulisnya langsung di alamat email silisuli1311@gmail.com. Demikian, Resensi Novel “Surya Mentari dan Rembulan”: Cinta Segitiga dan Petualangan Pemuda Tana Toraja. #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. Terima kasih banyak reviewnya Mbak Dian. Sebelumnya saya mengucapkan Selamat memasuki bahtera rumah tangga. Semoga senantiasa dipenuhi cinta kasih dan kebahagiaan bersama suami tercinta. Reviewnya akan menjadi catatan bagi saya saat menerbitkan cetakan ketiga novel ini dan bila suatu saat ada waktu yang cukup untuk melanjutkan novel ini ke sekuel kedua….. Sukses selalu Mbak Dian

    • Kembali kasih, Mas. Senang rasanya bisa menikmati karya ini.

      Aamiin … terima kasih banyak. Sukses juga untuk Mas Sili Suli dan karya-karya berikutnya, ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.