Sahabatku, Si Penipu Ulung itu, Meninggal Dunia

0
SHARE
sahabat meninggal, sahabat meninggalkan kita, pura-pura bahagia, pura-pura baik-baik saja
By: Emma Brusevold on Flickr

Tepat pada Hari Ibu, 22 Desember 2018, sahabatku sang penipu ulung itu meninggal dunia. Namanya, sebut saja Anita. Dia adalah sahabat SD yang dulu mencekoki saya dengan film-film India.

~

Pada hari itu, tepat pukul 14.44 WIB, sahabat yang lain (panggil saja Imonk) mengabarkan via grup WA kalau kondisi Anita drop. Dia pun dibawa ke rumah sakit, yang sayangnya tidak disebutkan di rumah sakit mana. Saya dan anggota grup lain hanya bisa berdoa.

Ketika menengoknya pada 12 Desember 2018, saya yakin kondisi Anita akan membaik. Dia yang dikabarkan sudah tidak berdaya, justru bisa berjalan dan tertawa ngakak. Dia menyimak dan berceloteh secara bersamaan.

Bahkan Anita juga, dengan mata berbinar, menyampaikan aneka rencananya. Entah itu untuk menginap di rumahku, ngaliwet dengan kawan-kawan yang lain, pasang KB, mengganti ponsel, dll.

Maka, saya optimis Anita hanya perlu dirawat sebentar di rumah sakit. Semua akan baik-baik saja. Tetapi …

Pada pukul 16.48, sahabat lainnya (panggil saja Epoy) menghubungi via japri. Dia langsung menghantamkan kabar, kalau Anita sudah meninggal.

Di saat itu, saya sadar sudah lama tertipu oleh sahabat yang satu ini.

Dia memang tidak pernah berubah. Dari dulu suka begitu. Dia suka menampilkan wajah ceria, energik, dan sok imut. Seakan tak ada celah kalau dia akan melemah, payah, sakit, tumbang, dan bahkan meninggal.

Di mata saya, sosok Anita seumpama perempuan yang sukses menikmati hidupnya. Apalagi dia sudah memiliki suami dan seorang putri. Dia pekerja keras, tangguh, dan langka mengeluh. Sekalinya curhat soal keberengsekan hidup, dia selalu membuyarkan momen dengan candaan.

Mungkin kami memang tidak terbiasa kumpul dan larut dalam kesedihan. Setiap ada masalah, kegokilan kami bisa merontokkan semuanya. Soal urusan ini, ke-absurd-an dan kegilaan, kami sudah saling cocok. Mungkin karena itulah, persahabatan kami dari SD terus bertahan sampai sekarang.

Baca Juga :  Unrequited Love; Benci sih, Tapi…

Jangan lupakan juga sifatnya yang penyabar. Sering dia jadi sasaran candaan kami, tetapi bukannya tersinggung, dia sendiri malah ikut terbahak jajaja fufufu. Huft!

Lihatlah, alangkah murah hatinya dia, yang sudah rela menjadi bahan kami tertawa.

Secukup-cukupnya keadaan seseorang, ada kalanya dia butuh bantuan. Apa pun itu bentuknya. Tidak mesti berupa materi. Minimal keberadaan, pundak untuk menyandar, atau tangan untuk menyeka air mata.

Namun Anita tidak menunjukkan tanda-tanda butuh itu. Dia seperti enggan menerima perhatian dan pertolongan. Wajah dan tingkahnya selalu menunjukkan, kalau dia baik-baik saja. Tak perlu ada yang dikhawatirkan.

Di situlah, saya pribadi, merasa sangat tertipu.

Saya tidak tahu apakah dia lelah terus menipu seperti itu. Ataukah dia memang sudah mahir memainkan topeng-topengnya dan melakukan penyamarannya. Mungkin dia memang sengaja ingin menipu kami, dan membuat kami percaya, bahwa dia tidak apa-apa.

Mungkin seseorang enggan jujur mengenai kondisi buruk dan gelapnya, sebab dia  tidak mau membunuh mood senang dan tidak mau merepotkan. Dia terlanjur kikir, sehingga hanya menelan penderitaannya sendirian. Tidak dibagi-bagikan.

Dia seakan anti dicap sebagai drama queen, pengeluh, sensitifan, baperan, dll.

Kadang saya pengin seperti itu juga, tetapi seringkali saya mengaku kalah dan tak bisa setabah Anita.

Oh, sahabatku itu …

Mungkin dia mengaku dan menampakkan diri sebagai manusia yang baik-baik saja, karena dia sendiri sedang meyakinkan diri kalau dia memang baik-baik saja.

Mungkin juga … sayanya saja yang memang tidak peka, terbuai dengan aktingnya, dan kurang menyimak keluh-kesah yang tidak dikatakannya. Akibatnya, saya selalu mudah tertipu.

Tetapi apa pun itu, tugasnya di dunia sudah selesai. Dia sudah pulang. Semoga Tuhan YME mengampuni, menyayangi, dan menempatkannya di tempat paling nyaman yang abadi. Selamat beristirahat, sahabat. Sahabatku, Si Penipu Ulung itu, Meninggal Dunia. #RD

Baca Juga :  Keajaiban Berpelukan Dalam Impian
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 + seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.