Home » et cetera (etc.) » Selebrasi Kebahagiaan Bersama Literasi Digital

Selebrasi Kebahagiaan Bersama Literasi Digital

IdImage

social media happiness

Image via : besthealthmag.ca

Media sosial kesukaan saya, atau yang sering saya akses karena bikin bahagia, adalah Twitter.

Layanan jejaring sosial berlogo burung ini jadi semacam “jalan ninja”. Saya seperti bebas lepas mau berkicau apa, tidak gengsi ikutan GA (giveaway) apa, ikut nimbrung di kolom komentar postingan siapa, leluasa memanggil admin layanan pelanggan, mencari hiburan, memungut ilmu, atau memantau topik yang sedang naik. Pokoknya platform ini bikin bahagia!

Sayang sekali, akhir-akhir ini banyak postingan menjemukan, yang kemudian mengundang komentar-komentar kurang mengenakkan. Kamu juga mungkin sempat membaca atau mengikuti tulisan-tulisan bernada miring, saling sindir, penuh perdebatan, jejal dengan berita kebohongan, sesak oleh sumpah serapah, kental dengan aroma kebencian, atau seperti terganggu dengan keanekaragaman perbedaan.

Jiwa sok tahu saya bergejolak, ‘kemampuan literasi digital mereka kok dangkal, ya?’. Saya pribadi lebih baik diam tanpa meninggalkan jejak atau komentar, ketimbang mempertontonkan kebodohan literasi saya sendiri. Namun kenyataannya, orang-orang dengan ketidakcakapan berbahasa yang baik dan benar di jejaring sosial itu banyak dan percaya diri. Kekisruhan akan terus bermunculan seiring dengan eksistensi mereka.

Baca Juga :  3 Jenis Terapi Menulis untuk Hidup Lebih Manis

Jiwa ini pun bereaksi. Seringkali saya ingin memaki-maki, tapi hal itu tidak akan mendatangkan kelegaan di hati. Yang ada, amarah terus terbakar sana-sini. Kadang-kadang sampai bikin batin jadi nyeri. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, sebab semua itu di luar kendali. Tetapi setidaknya saya bisa menyaring postingan atau komentar yang menguras emosi. Bagaimana pun, energi saya terbatas.

Masak iya saya mesti ikut menderita karena keburukan literasi media sosial mereka?

Saya berhak bahagia, maka saya menepi saja.

IMG 20211210 105049

Kang Maman dan JNE mengirim kitab suci dan buku bacaan dari Aceh sampai Papua. Sumber: Twitter @kangmaman1965

Selalu ada postingan lain yang lebih bisa menentramkan batin. Salah-satunya mengenai kiprah duet maut Kang Maman dan JNE. Mereka seperti dua jiwa yang sama-sama sedang bertumbuh, lalu dipertemukan, kemudian melahirkan gerakan besar dalam hal literasi. Gerakan tersebut perlu kita apresiasi dan rayakan bersama, sebab kebahagiaan yang ditimbulkannya memang tumpah ke mana-mana.

Baca Juga :  13 Alasan Kenapa Ngeblog itu Bisa Menyebalkan

Tidak bisa dibayangkan kalau Kang Maman berjalan sendirian, siapa yang akan membantunya mengirim paket-paket cinta berisi buku atau kitab suci ke pelosok-pelosok Indonesia? Gratis ongkos kirim!

JNE pun sama. Dia kurang leluasa kalau bermain tunggal, tanpa didampingi Sang Duta atau Pegiat Literasi kita. Bagaimana pun, tokoh dengan ciri khas kepala plontosnya itu memiliki pengaruh besar bagi dunia bahasa.

Untungnya mereka berdua. Untungnya mereka bekerja sama. Untungnya mereka menanamkan azas bahagia bersama. Untungnya mereka bermodalkan kasih dan cinta. Sumbangsih mereka untuk literasi pun luar biasa!

IMG 20211210 104638

Sumber: twitter @kangmaman1965

IMG 20211210 104653

Sumber: Twitter @kangmaman1965

Bisa diprediksi bagaimana mekarnya senyum orang-orang di taman bacaan masyarakat, pondok pesantren, rumah hijau, atau bank sampah ketika menerima paket kebahagiaan dari Kang Maman dan JNE. Para peserta kuis atau giveaway di media sosial pun pasti tak kalah semringah, ketika paket berupa hadiah buku bisa datang sesuai harapan. Kang Maman dan JNE memang lihai membuat program ‘baca, iqra, read’ jadi lebih menyenangkan.

Baca Juga :  Inilah Enam Lagu BLACKPINK yang Paling Laris Berdasarkan Penjualannya

Saya sendiri sering mengikuti kuis mereka dan menang satu kali saja. Rasanya benar-benar bahagia. Entah gigih atau memang kadung merasa asyik, saya selalu ikutan lagi dan kini malah mengalami kekalahan beruntun. Tapi saya ikut senang dengan kemenangan dan keberuntungan peserta kuis yang lain. Padahal hadiahnya bukan uang miliaran, melainkan buku bacaan dan kadang-kadang kopi komeng.

Mungkin benar kata orang, kebahagiaan pun bisa menular. Saya lihat, postingan kolaborasi antara Kang Maman dan JNE semakin semarak saja. Unggahan-unggahan penuh senyuman dari berbagai penjuru Indonesia pun kerap memenuhi beranda.

Kang Maman dan JNE tidak segan-segan berbagi kebahagiaan. Sudah seyogyanya kita pun tidak sangsi memberi dukungan pada JNE dan Kang Maman. Selebrasikan kebahagiaan literasi!

Panjang umur, orang-orang dan hal-hal baik. Teruslah memungkinkan yang mustahil. #dr

error: