Serba-Serbi Mendengarkan dan Membaca Curahan Hati di Media Sosial

2
SHARE
curhat, mendengarkan, curhat di media sosial, konsultasi online, curhat online
Image via: st3.depositphotos.com

Lebih suka mendengarkan, atau didengarkan?

~

Pada 10 Oktober, dunia merayakan Hari Kesehatan Mental. Jadi bisa dibilang, Oktober adalah Bulan Bahasa Indonesia sekaligus Bulan Kesehatan Mental. Tidak heran kalau di bulan ini orang-orang terus menggaungkan mental health awareness atau kesadaran akan kesehatan mental.

Sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental pun penting. Tidak bisa dianggap main-main.

Satu dari sekian banyak upaya untuk menjaga kesehatan mental sendiri, yaitu dengan menulis. Sensasinya seperti sedang curhat. Saya merasa bisa meluapkan isi hati dan pikiran. Saya merasa lega karena dibaca. Saya merasa senang karena didengar.

Lebih plong lagi, sebab tidak ada yang menghakimi atau memvalidasi apa pun yang saya curahkan. Ada pun komentar atau feedback negatif memang ada. Namun semakin lama, saya semakin abai saja. Lagipula jumlahnya lebih sedikit ketimbang mereka yang diam dan mendengarkan.

Curhat dan Menampung Curhat

Menulis curahan hati di blog dan medsos memberi efek positif tersendiri. Tetapi kalau terus-terusan saya yang curhat, maka kemungkinan yang saya tahu hanya itu-itu saja.

Tetapi tanpa dipinta pun, banyak orang-orang yang juga ikut membagikan ceritanya. Ada yang menjangkau email, ada juga yang masuk melalui media sosial.

Cerita yang dibagikan sangat beragam.

Ada yang bercerita tentang orang tuanya yang toxic, tentang hubungan spesialnya dengan anak broken home, tentang tunangannya yang kecanduan narkoba, tentang hidupnya yang merasa sia-sia dan tidak berguna, tentang perempuan yang ingin ‘nembak’ laki-laki duluan,

tentang rencana melanjutkan pendidikan secara mandiri ke tempat yang jauh, tentang laki-laki yang mudah menangis, tentang introvert yang kenyang stigma, tentang penyesalan karena sudah menyia-nyiakan, dll.

Begitu pun ketika saya memosting fitur Ask a Question di Instagram. Para followers atau pengikut membagikan aneka konflik. Mereka mencurahkan beban hati dan pikiran.

Baca Juga :  Mengerjakan Pekerjaan A Di Tengah Pekerjaan B

Saya berusaha membaca dan “mendengar” semuanya. Tidak ada sensor. Bebas saja.

Semakin banyak mendengar, semakin banyak tahu. Semakin banyak mendengar, semakin melatih kepekaan. Semakin banyak mendengar, semakin melatih kebijaksanaan.

Kekuatan dari “Mendengarkan”

mendengarkan, saling mendengarkan, menjadi support system, mendengarkan curhat
Image via: Kanal Youtube The Brahms

Setiap orang senang didengarkan setiap waktu, namun hanya segelintir yang meluangkan waktu untuk mendengarkan orang lain.

Pada dasarnya, membaca atau “mendengarkan” curahan hati orang lain itu mudah saja. Namun yang sulit itu, ketika kita mesti merespons dengan tepat. Bagaimana caranya agar orang tersebut nyaman, tetap percaya, dan merasa baikan setelah curhat ke kita.

Saya senang jika ada yang bisa dipercaya, sehingga saya bisa curhat selepas-lepasnya. Maka saya pikir, orang-orang pun akan senang jika saya bisa terpercaya dan menampung curhat mereka.

Saling menjadi support system saja.

Tidak jarang ketika orang lain bercerita itu … tujuannya bukan untuk diceramahi, dinasihati, dikasih quotes, dikirim ayat-ayat suci, atau dihakimi. Kadang mereka hanya butuh seseorang yang mau atau sudi membaca dan mendengarkan ceritanya saja. Sederhana.

9 Syarat dan Ketentuan untuk Membaca atau Mendengarkan Curhat dengan Baik dan benar

Tetapi saya tetap menerapkan syarat dan ketentuan berlaku ketika membaca atau mendengarkan curahatan hati orang lain, khususnya untuk diri saya sendiri, yakni sebagai berikut:

#1. Tidak disertai judgement atau penghakiman atas keputusannya. Misalnya ketika ada orang membuka kesempatan kedua pada pasangannya yang selingkuh, kita mungkin ingin ngatain ‘t*l*l’ atau apa. Namun sebisa mungkin tahan saja. Sebab kita tidak pernah tahu segalanya.

#2. Tidak disertai penilaian. Misalnya ketika ada yang mengaku menangis semalaman karena putus cinta, hindari komentar yang membuatnya merasa lebih buruk dan semakin terluka. Misalnya ‘dasar cemen!’, ‘gitu aja rapuh!’, ‘jaga harga diri dong!’, dll.

Baca Juga :  Ketika Mendapat Pemberitahuan “@Sharoncorrofficial Started Following You” Dari Instagram

#3. Tidak disertai dengan diagnosis. Misalnya ketika ada orang yang mengeluhkan sesuatu, kita langsung mencapnya menderita gangguan kejiwaan, mengidap bipolar, menderita ansieti, dll.

#4. Tidak disertai dengan rebutan perhatian. Misalnya ketika ada orang mengeluhkan uang biaya sekolah, kita lalu curhat balik kalau kita lebih menderita karena tidak punya uang buat makan siang. Sebab penderitaan itu bukan perlombaan, bukan tentang siapa yang paling tersiksa dan tersakiti.

#5. Tidak disertai komentar menakut-nakuti. Misalnya ketika ada yang sangat percaya pada kita, sampai-sampai terbuka soal perbuatan buruk yang dilakukannya, kita lantas menyatakan kalau dia itu dekat dengan azab atau calon penghuni neraka. Padahal dia sendiri sedang menderita karena perbuatannya.

#6. Tidak disertai komentar merendahkan atau menyinggung. Misalnya ketika ada yang curhat soal rasa stres yang dialami, kita lalu menyimpulkan kalau orang tersebut jarang ibadah, kurang bersyukur, tidak suka berbuat baik, dll.

#7. Tidak menjadikan curhat orang lain sebagai bahan konten, apalagi sampai membuka data pengirimnya. Kecuali kalau konten tersebut dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi semuanya dan data pengirimnya tetap dirahasiakan.

#8. Sebisa mungkin fokus dan membaca/mendengarkan/menyimak dengan sepenuh hati.

#9. Tidak perlu memaksakan diri. Jika tidak mampu merespons dengan baik dan tidak mampu membantu langsung, sebaiknya arahkan untuk meraihkan pertolongan profesional. Jangan sampai mendiagnosis dan apalagi menangani sembarangan.

Selain itu, yang terpenting, perlu telinga dan hati yang terbuka untuk mendengarkan.

Di zaman sekarang, di mana semua orang ingin bersuara-ingin didengarkan-ingin diperhatikan, kesediaan mendengarkan jadi kebaikan yang sangat mewah dan spesial. Serba-Serbi Mendengarkan dan Membaca Curahan Hati di Media Sosial. #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. suka baca curhatan orang di medsos, akdang jadi pembelajaran juga bagiku untuk bersikap. kalau menyedihakn aku suak mensuport dan menyemangati dan mendoakan

    • Terima kasih banyak, Mbak. Saya termasuk salah-satu orang yang bersyukur dan berterima kasih atas semua dukungan dan semangat yang Mbak berikan. Benar-benar membantu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.