Surat Terbuka untuk Anak Broken Home yang Membenci Orang Tua dan Keluarganya

0
SHARE
surat terbuka untuk anak broken home, surat untuk anak broken home, pesan untuk anak broken home, caption anak broken home, diary anak broken home, psikologi anak broken home
Image via: blog.sevenponds.com

Dear, anak broken home.

Apa kabarmu? Kabar fisikmu, hatimu, dan pikiranmu yang selalu berantakan itu? Semoga tetap sehat dan waras, ya.

Orang bilang, ketika sedang down, biasanya kita enggan untuk mendengar dan menerima nasihat dari orang lain – apalagi orang tersebut tidak pernah memiliki pengalaman luka yang sama dengan kita. Apa pun yang ke luar darinya tak lebih dari omong kosong belaka.

Orang bilang, ketika sedang down, kita lebih memilih untuk berkumpul dan berbagi bersama orang lain yang senasib – yang jalan ceritanya mirip. Sehingga apa pun yang ke luar darinya merupakan motivasi dan inspirasi luar biasa.

Sebagai anak broken home, saya merasakan keadaan ini. Ketika teman-teman yang berasal dari keluarga ‘harmonis’ meminta saya untuk curhat, rasanya susah sekali. Saya malas untuk menceritakan apa-apa, mengingat mereka tidak akan benar-benar paham apa yang saya rasakan.

Lain halnya ketika saya bersama seorang sahabat yang kisahnya hampir serupa. Ya, orang tua kami berpisah. Bedanya, masing-masing orang tua dia sudah menikah dengan orang lain. Ayah saya pun menikah lagi. Sedangkan ibu saya memilih untuk menjadi single parent yang keren.

Kalau bersama dia, saya merasa ingin memuntahkan semua hal  yang sudah mengendap dan membusuk di dada.

Saya merasa mendapat support.

Apalagi di zaman sekarang, ketika mengenal internet dan menyadari kalau anak broken home itu cukup banyak. Rasanya dukungan itu sangat banyak. Tidak terbayang rasanya kalau kami bertemu, saling bercerita, atau minimal melakukan group hug alias pelukan bersama-sama untuk mengalirkan kekuatan. Bittersweet.

anak broken home, catatan hati anak broken home, anak broken home kata kata, anak broken home quotes, diary anak broken home, anak broken home indonesia, komunitas anak broken home
Image via: images1.phoenixnewtimes.com

Dear, anak broken home.

Pertama-tama, kamu mesti ingat kalau perceraian atau keadaan keluarga broken home di rumahmu itu bukan salah kamu.

Baca Juga :  10 Pelajaran Positif Dari Perceraian Orang Tua Bagi Anak Broken Home

Wajar saja kalau kamu sempat bertanya-tanya, ‘apa yang bisa saya lakukan agar keluarga tidak berantakan?’, atau , ‘apa yang bisa saya lakukan agar orang tua tetap bersama?’.

Sayangnya, tidak semua pertanyaan datang dengan jawaban yang memuaskan. Bahkan seringkali kamu tidak tahu jawabannya. Kamu tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah keadaan. Apalagi jika berkaitan dengan orang-orang di luar dirimu, termasuk orang tuamu.

Itu urusan mereka. Itu perang mereka. Ada baiknya kalau kamu mundur, tidak perlu ikut campur.

Namun kamu mesti mencamkan, kalau orang tuamu tetaplah orang tuamu. Kamu tetaplah anak mereka. Tidak ada yang berubah karena perceraian. Semua tetap sama meski pun keadaan keluarga sudah tidak sama.

Mungkin dulu kamu sempat ‘pilih kasih’ dan mendukung salah-satu dari mereka. Tetapi kini kamu sudah mulai dewasa. Tidak perlu memusuhi salah-satu diantara mereka, apalagi keduanya. Siap?

Lukamu pasti tetap ada, namun waktu sudah membuatnya baikan, bukan? Atau, belum?

Kini ketika usiamu terus bertambah dewasa, usia orang tua juga sama saja. Mereka terus menua. Mereka semakin renta. Banyak kemampuan mereka yang berkurang. Kondisi kesehatannya juga jadi rentan.

Pelan-pelan saja terima apa pun ketetapan Tuhan.

Pelan-pelan saja maafkan dirimu sendiri yang tidak punya kuasa untuk mengubah segalanya.

Pelan-pelan saja terima keadaan keluarga.

Pelan-pelan saja maafkan orang tua dan tumbuhkan kembali rasa sayangmu pada mereka.

Kamu sudah ditempa cobaan hebat, tetapi kamu tetap bertahan. Kamu memang tangguh. Mungkin sudah saatnya kamu menjadi pundak bagi orang tuamu. Sudah saatnya kamu jadi sandaran mereka.

Sudah saatnya menghapus dendam dan luka lama diantara orang tua. Tidak ada lagi ayah yang menyalahkan ibu, atau pun sebaliknya. Tidak ada lagi ibu yang membicarakan keburukan ayah, dan sebaliknya.

Baca Juga :  Benarkah Anak Broken Home Takut Menikah?
anak broken home, pacaran sama anak broken home, diary anak broken home, kondisi psikologis anak broken home, broken home indonesia, puisi anak broken home
Image via: Pinterest

Jika kamu memiliki saudara-saudara lain, kandung atau pun tiri, kamu pun bisa menjadi sandaran mereka atau justru menjadikan mereka sebagai sandaran kamu. Perceraian itu memisahkan ayah dan ibumu, tetapi tidak dengan saudara-saudaramu. Justru merekalah sosok yang lebih memahamimu, sebab mereka juga berada di posisi yang sama.

Sebisa mungkin kamu jaga kerukunan keluarga yang ada. Tetap saling support. Kalau sudah tidak serumah, jangan lupa untuk saling bertukar kabar. Kalau perlu, kamu bisa membuat grup Whatsapp dan menjaga agar silaturahmi tetap menjaga.

Tidak apa-apa kamu curhat via teks, telpon, atau video call. Tumpahkan saja. Menangislah bila perlu. Merdekakan tawa dan air matamu sampai dadamu lega dan kembali lapang. Persis seperti apa yang kamu lakukan di kala kecil.

Kamu sudah cukup lama hidup di  bawah atap yang isinya berupa keluarga berantakan. Mungkin sudah waktunya kamu coba ubah pelan-pelan dengan sisa anggota keluarga yang ada. Undang situasi harmonis yang selama ini kamu idam-idamkan.

Mesti awalnya susah, kamu juga bisa perlahan membuka hatimu. Beri kesempatan untuk hubungan romansa yang sebenarnya kamu inginkan. Tetapi tak perlu dipaksakan juga. Rileks saja.

Demikian, semoga kamu-saya-kita semua mampu tersenyum tulus pada kehidupan ini. Sehingga kehidupan pun bisa membalas senyuman dengan tulus pula. Surat Terbuka untuk Anak Broken Home yang Membenci Orang Tua dan Keluarganya. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.