Toh Orang-orang Akan Tetap Mengomentari dan Mungkin Menghakimi

0
SHARE
Toh Orang-orang Akan Tetap Mengomentari dan Mungkin Menghakimi, menghakimi orang, menghakimi orang lain, mengomentari orang lain, banyak komentar
Image via: gregtrimble.com

Memberi komentar dan penghakiman itu mudah terlontar karena ketidaktahuan. Tetapi begitu tahu yang sebenarnya, komentar dan penghakiman itu pun tidak lagi terdengar.

Entah sudah berapa kali kesalahpahaman terjadi dalam hidup ini. Mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar.

Apa kamu pernah mengalaminya?

Oh kalau sering pun, rasanya tidak mengagetkan. Potensinya memang besar.

Masalahnya, kadang kita tidak tahu apa-apa, tapi sering tergoda untuk berbicara seolah tahu semuanya.

Contohnya, ada tetangga yang protes karena muazin di musala kampung membaca selawat dan ayat suci menggunakan mikrofon. Warga pun terpecah.

Ada yang menuding kalau tetangga tersebut anti sama selawat dan ayat suci. Tudingan ini menyebar luas, sehingga muncul desas-desus bahwa keimanan si tetangga sudah melemah, bahkan mungkin terancam punah. Sebagian bilang, dia mesti dirukiah.

Ada juga warga yang memilih ngobrol dulu, menanyakan duduk perkaranya.

Usut punya usut, rupanya tetangga tersebut memiliki bayi yang baru berumur bulanan. Sang bayi kerap menangis ketika mendengar suara bervolume tinggi dari masjid. Apalagi arah toa atau sepikernya persis menuju ke rumah si tetangga.

Karena keadaan itu, si tetangga kerap menghadapi masalah dalam istirahatnya. Ketika sedang terlelap, tangis bayinya langsung pecah karena muazin sudah menggunakan mikrofon sebelum azan. Apalagi tangisannya keras dan awet. Dia pun merasa sudah terganggu.

Meski demikian, dia tidak pernah mempermasalahkan azannya itu sendiri. Dia hanya meminta agar muazin tidak perlu membaca selawat dan ayat suci menggunakan mikrofon. Cukup azan saja.

Menurutmu bagaimana?

Saya juga, ingin rasanya saya menuliskan beberapa kesalahpahaman yang mengusik. Namun saya sadar, blog ini bersifat publik. Atas beberapa pertimbangan, berbagai hal yang kerap dikomentari dan disimpulkan orang-orang pun hanya bisa saya diamkan.

Baca Juga :  Dunia Sudah Keras dan Kejam Padamu, Apa Kamu Akan Begitu Juga Pada Dirimu Sendiri?

Hhh … enggak nyaman, sebenarnya. Tetapi kadang kita tidak perlu menjelaskan secara detail kepada semua orang. Mereka bisa saja mendengar, tapi beberapa diantaranya tetap tidak bisa memahami.

Kadang selantang dan sesering apa pun penjelasanmu, kalau mereka enggan membuka hati untuk memahami, rasanya percuma saja.

Intinya apa pun yang kamu lakukan, sekalipun itu kebaikan, akan ada saja orang-orang yang salah paham. Lalu mereka memberi komentar dan penghakiman yang tidak sesuai dengan tujuanmu.

Sayangnya, kamu tidak punya kuasa untuk membekap semua mulutnya. Tidak punya kuasa juga untuk menghentikan gerak jarinya ketika mengetik status, misalnya.

Ketika dikomentari dan dihakimi orang lain, kemungkinan kamu terjebak ke dalam satu dari 3 kondisi:

  • kamu selalu mengklarifikasi pada orang-orang agar imejmu terjaga dan mereka tidak salah paham lagi.
  • kamu sakit hati, menangis, dan mungkin mengurung diri.
  • kamu bersikap masa bodoh.

Seringkali sikap ketiga, masa bodoh, menjadi pilihan yang terbaik. Kamu tidak resah atas apa yang dipikirkan orang lain. Kamu malah memilih fokus untuk mengurus hidupmu sendiri.

Pada akhirnya, mereka akan tetap berkomentar dan menyimpulkan sendiri. Tapi selama kamu bisa mengendalikan diri untuk “tidak terbawa emosi” atas komentar dan penghakiman orang lain, kamu baik-baik saja.  Toh Orang-orang Akan Tetap Mengomentari dan Mungkin Menghakimi. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 + eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.